Lagu-lagu hits Indo yang menyadur dari lagu lain

Judulnya apa banget, hahaha…. Tapi udah banyak yang bahas dan ngelist soal topik ini sih.. Cuman pengen nambahin sama nge-keep aja… Lagi musim kali ya sekarang ciptain lagu populer dengan asal comot alias menyadur bahan dari lagu-lagu mancanegara yang dulunya ngehits atau fenomenal atau malah kebetulan yang jarang terdengar di telinga penikmat musik Indonesia…. Ada yang mengambil sebagian dari musiknya, liriknya, intronya, reffrain/chorus-nya, coda-nya, video klip nya, atau bahkan ngejiplak sama persis… Bukan maksud menjelekkan karya anak negeri, yang lain banyak kok yang kreatif dan inovatif lang lagunya juga kemudian terkenal dan dapet penghargaan 🙂 Mungkin juga memang yang mirip2 itu cuma kebetulan mirip atau sengaja recover/recycle. \semoga/

Ini juga hasil survey dari browsing ditambah observasi(?)sendiri 😀

Berikut adalah daftar lagu-lagu populer di Indonesia yang baik sedikit atau banyak memiliki kemiripan dengan lagu-lagu mancanegara yang sudah dirilis sebelumnya.

1. RINDU by Tuty Wibowo -vs- GUO HUO by Jeff Chang

Aku sampai tanya2 di suatu komen di Youtube gara2 saking penasaran nya. Soalnya pernah denger lagu mandarin persis banget musik dan lirik nya sama lagu dangdut ini… Ternyata kebalik, lagu dangdutnya yang nyadur tu lagu mandarin 😀

2. BEST FRIEND FOREVER by Cherrybelle -vs- KISSING YOU by SNSD/Girls Generation

Nah kalo ini udah tenar banget perdebatannya. Palagi pas jaman kuliah dulu, suka jadi bahan ngerumpi, wkwk.. Mending kaya JKT48 sekalian, jadi ga masalah kalo mirip…. Tapi ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu(?)… Semoga cukup lagu itu aja.. Jangan sampe mba-mba SNSD enggan konser ke Indo gara2 tau lagunya diplagiat Dx….

3.KATA PUJANGGA by Rhoma Irama -vs-BOLL RADHA BOL by Mukesh, Sangams Songs

Hmmm…kalo ini sih, gimana ya… Musik dangdut sama bollywood kan beda tipis… Gak tau menau juga ada klarifikasinya apa nggak…

4.MIMPI MANIS by Rieke -vs- DUS BAHANE by (i dunno -.-)

5.SHARMILA by Ashraff -vs- DAR LAGTA HAI by Ankh Milate

6.PENGALAMAN PERTAMA by A.Rafiq -vs- DIL KA SOONA SAAZ TARANA DHOONDE GA by Muhammad Rafi

7.BONEKA CANTIK DARI INDIA by Ellya K. -vs- SAMA HAI BAHAR KA by LATA MANGESHKAR

8. SMS by Ria Amalia -vs- DIL USE DO by Muhammad Rafi feat Asha Bhosle

9.HAMIL DULUAN by Tuty Wibowo -vs- MY LECON by JTL

Hnnn… Miapah XDXD

10.CINTA SATU MALAM by Melinda -vs- EVERYTIME WE TOUCH by Cascada

11.ALAY ANAK LAYANGAN by Lolita -vs- MIRAI E by Kiroro

Lagu ini salah satu lagu jepang klasik favorit ku… Dan sudah ada dua yang nyadur.. Yang satunya di nomor berikut 😐

12.SAYANG by Via Vallen dan/atau NDX A.K.A

Mirip.banget. Cuma ada yang ditambahin.gitu aja….

13.TEWAS TERTIMBUN MASA LALU by NDX A.K.A dan/atau Via Vallen -vs- CAN’T FORGIVE by Cha Soo Kyung

Baru tadi pagi nyadar,kaya semacem dejavu. Trus keinget drama korea Temptation of Wife. Lagu Soundtracknya mirip banget sama lagu ini… Pas di chorus terutama…

14. MARI BERCINTA by Aura Kasih -vs- GIVE IT TO YOU by Eve feat Sean Paul

15.IWAK PEYEK by Trio Macan -vs- TAKE’EM ALL by (i dunno-.-)

16.SUAMIKU NAKAL LAGI by RD26 -vs- ZUNEA ZUNEA by Cleopatra Stratan

17.CABE-CABEAN by Imey Imey -vs- ALL THAT SHE WANTS by Ace of Base

18.BERONDONG TUA by Siti Badriyah -vs- NOBODY by Wonder Girls

Yaampyun dah… Hahahhaa… Tetep bagusan versi ori versinya Wonder Girls… B-)

19.CINTA INI MEMBUNUHKU by D’Masiv -vs- I DON’T LOVE YOU by My Chemical Romance (MCR)

Setujuu deh…Intronyaa mirip bangets…

20.BERSAMAMU by Viera -vs- CLOSE by Westlife

Kayak semacem versi terjemahan bahasa indonya 😀

21. MAKHLUK TUHAN PALING SEXY by Mulan Jameela -vs- TIME IS RUNNING OUT by Muse

22. PANGERAN CINTA by Dewa 19 -vs- IMMIGRANT SONG by Led Zeppelin

23.AISHITERU by Zhivilia -vs- KOKO NI IRU YO by Soulja fear Aoyama Thelma

24.SIANG MALAM by Qiu 9 -vs- SWEAT DREAM by Jang Nara

25.SEJAUH MUNGKIN by Ungu -vs- THE REASON by Hoobastank

Chorusnya persis….

26.CINTA SUCI by Funky Kopral -vs- UNINTENDED by Muse

27. I HEART YOU by SM*SH -vs- BABY by Justin Bieber

………..dst…tbc….. 😀

Dan masih ada banyak lagi, cuman udah pegel ngetik… Dan itu cuma yang setahuku aja…. Yang aku belum tau mungkin masih banyak….

Anyway, thanks for your visit….

Have a good day….

See you next time 😉

LOVE NOTE (Catatan Cinta)

Apa ini? Buku bersampul hitam yang tergeletak begitu saja di samping taman sekolah. Aku kesini karena anak-anak yang sedang main futsal itu dengan seenaknya menyuruhku, yang kebetulan lewat, untuk mengambil bola mereka. Kuambil bola tak seberapa besar itu, dan saat itulah pandanganku bersitatap dengan sebentuk buku unik. Entah unik entah aneh. Astaga, jangan bilang ada yang sedang mengerjaiku. Aku mungkin bodoh dan mudah dibodohi, tapi aku tak sebodoh itu untuk mempercayai keanehan buku yang tak sengaja kutemukan itu. Meski bukan pecinta anime, aku pernah menonton Death Note. Buku yang kutemukan ini persis sekali modelnya dengan Death Note, hanya saja ia diberi judul Love Note.

Aku tertawa dalam hati. Ingin kuambil buku itu lalu kubakar atau kulempar ketempat sampah biar tau rasa orang yang bisa-bisanya memiliki ide tidak elite seperti ini untuk mengerjai orang. Tapi, buku itu masih kosong. Entah mengapa, aku merasa sayang saja kalau buku itu tidak ku manfaatkan. Kupikir buku itu lumayan untuk corat-coret dikelas nanti, atau bisa kujadikan buku catatan tambahan. Apalagi nanti setelah istirahat adalah waktunya pelajaran Matematika. Shit.

Sambil menyangga wajah, aku terus memandangi papan tulis. Meski pak Kuroda menjelaskan dengan telaten tetap saja tak ada yang bisa ku mengerti tentang bagaimana menyelesaikan rumus fungsi itu. Aku lebih suka pelajaran bahasa Inggris atau bahasa Jepang atau bahasa Perancis sekalian. Karena hanya pada pelajaran itu aku tidak dituntut berpikir keras. Aku ini sama sekali tidak berbakat di bidang apapun. Aku juga tidak pintar. Seringnya, aku masuk dalam 20 besar dari jumlah 30 anak per kelas. Aku juga tidak suka olahraga. Satu-satunya cabang atletik yang ku kuasai hanya berlari, itupun kalau aku sedang mood untuk berkompetisi. Aku tidak bisa berenang, aku tidak bisa main basket, aku juga tidak bisa bela diri. Pokoknya tiap pelajaran olahraga aku cukup masuk, absen dan melakukan apa yang guru olahragaku perintahkan.

 

Setelah bermenit-menit aku nyaris terantuk karena mengantuk, sebuah ide muncul dikepalaku. Aku meraba selorokan mejaku untuk mengambil buku bersampul hitam yang kutemukan saat jam istirahat tadi. Ya ampun, benar-benar kurang kerjaan orang yang mau membuat buku ini. Dijual tidak, dibuang iya. Atau mungkin terjatuh? Yang pasti aku tidak akan terperdaya. Apanya yang Love Note? Kalau Death Note mampu membuat orang mati hanya dengan menuliskan namanya diatas kertas Death Note, apa Love Note mampu membuat orang jatuh cinta hanya dengan menulis namanya dalam buku aneh ini?
Innerku menggeleng keras. Absurd.

Begitu kubuka sekali lagi, kali ini lebih terperinci, ternyata tidak ada aturan-aturan seperti yang tertera pada Death Note. Isi buku ini benar-benar kosong kecuali laman depan sampul yang bertuliskan Love Note. Lagipula dari namanya, buku ini tidak akan membunuh orang, tapi hanya akan membuat orang jatuh cinta, begitu kan? Ewh. Jangan bilang seandainya buku ini nyata fungsinya, maka sekarang ada dewa atau dewi cinta pemilik buku yang sedang mengawasiku. Please, aku tidak ingin berakhir tragis seperti Light Yagami yang merupakan pemeran utama dalam serial Death Note.

Lagi-lagi innerku terkikik menolak keras-keras asumsiku barusan. Sudahlah, lagipula siapa yang ingin kubuat saling jatuh cinta? Kalau jadi mak comblang dibayar, mungkin aku akan menggunakan buku ini meski itu mustahil.

 

“-ta! Shinta!”

 

Aku terperanjat. Ya ampun, sejak kapan pak Kuroda berdiri didekat mejaku? Jangan bilang belia tadi memanggil-manggilku tapi aku tak mendengarnya. I’m so dead.

 

“Jadi kamu dari tadi tidak memperhatikan pelajaran saya?”

 

“Eh..mm..anu.. eh.. maksudnya.. saya memperhatikan kok pak, cuma kepala saya agak pusing, maaf pak.”

 

Bagus. Entah darimana alasan konyol itu berasal. Kalau pak Kuroda nggak percaya, aku harus siap dihukum. Mending kalau hukumannya lari keliling lapangan, dulu aku pernah disuruh mengerjakan seratus soal logaritma karena lupa mengerjakan PR dan soal itu harus diserahkan keesokan harinya. Semoga kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Amin. (-/|\-)

 

Kulihat pak Kuroda membenahi letak kacamatanya. Sementara jantungku berdegub-degub, kalau kalau aktingku tadi gagal.

 

“Yasudah, ke UKS sana. Harusnya kalau merasa tak enak badan kamu minta izin. Mengerti?”

 

“I-Iya pak, permisi.”

 

Demi Zeus, aku tak percaya kalau seorang pak Kuroda bakal menelan mentah-mentah kebohonganku. Tapi biarlah, keuntungannya aku bisa sejenak terbebas dari Matematika yang terasa membelengguku selama hampir 2 jam tersebut. Awalnya aku berjalan menuju UKS, tapi niatku batal, selain karena aku sebenarnya baik-baik saja. Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dari ruang music. Sepertinya ada yang sedang berlatih band.

Ruang music di sekolahku sedikit lebih luas dibandingkan ruang kelas biasa. Sengaja didesain transparan agar suara riuh yang dihasilkan lebih membahana. Tidak akan mengganggu pelajaran, karena sebentar lagi juga jam pulang. Makanya tadi aku sekalian membawa tas. Siswa dan siswi yang mengambil ekstrakurikuler music tidak boleh bermain saat jam pelajaran. Ya iyalah, kalau dibolehin sama saja mengizinkan mereka untuk bolos dengan bebas. Sekolahku memang bukan sekolah favorit, karena secara akademik sekolah ini tidak terlalu berprestasi. Tapi dalam non-akademik, nama sekolah kami sudah sangat dikenal. Misalnya langganan juara tiga besar dalam pekan olahraga nasional atau kompetisi band.

Aku sendiri tak tahu kenapa aku masuk sekolah ini. Aku sama sekali tidak memiliki bakat, tapi sekolah ini menerima siapa saja yang nilai akdemis-nya tidak baik namun mempunyai bakat lain yang menonjol. Saat pendaftaran dulu, aku hanya menyanyikan sebuah lagu musical dari drama musical Dracula, Loving You Keeps Me Alive. Aku tidak tahu apakah suaraku menyakiti telinga para guru dan kepala sekolah saat itu atau tidak, tapi aku lega aku diterima. Karena setidaknya disini, aku tidak dituntut untuk mendapat nilai akademis tinggi untuk bisa lulus. Selain itu fee sekolah ini juga terbilang terjangkau karena sekolah ini banyak mendapat sumbangan baik dari pemerintah maupun donatur yang kebanyakan adalah seniman atau olahragawan. Hanya saja, mayoritas murid disini adalah laki-laki. Tentu saja ada murid perempuan tapi sedikit, itupun tak semuanya ramah padaku. Aku tidak tahu, mungkin karena dari luar aku seperti tipe orang yang sulit didekati. Padahal aslinya aku bisa saja ceriwis. Tapi aku tak ambil pusing, selama mereka menganggapku teman, maka aku juga akan menganggap mereka teman. Selama mereka tak menghindariku, aku tak akan menghindari mereka. Meski kadang, aku ingin memiliki satu saja sahabat di sekolah ini.

 

Just hold your breath

Because tonight will be the night that I will far you

Over again

Don’t make me change my mind

 

Aku mengetuk-ngetukkan kaki ke tanah berumput sambil menikmati alunan music dari ruang music. Selera mereka tidak buruk. Aku suka lagu itu.

 

Aku…

Aku juga suka dengan orang yang menyanyikan lagu itu…

Saat ini….

 

Tanganku masih menggenggam buku bersampul hitam aneh. Mendadak pikiran-pikiran aneh menggerayangiku. Meski sudah kucoba kutepis karena aku yakin sekali hal-hal konyol seperti apa yang ada di anime, tentu tidak akan terjadi di dunia nyata. Hal semacam itu hanya berlaku dan terjadi dalam dunia fiksi.

Kalau begitu, biar ini terjadi dalam dunia fiksiku.

Lagipula aku sendirian.

Kalau terjadi apa-apa, tidak akan ada yang tahu.

Semua siswa sudah pulang kecuali mereka yang ada jadwal ekstrakurikuler hari ini.

Aku disini hanya… hanya ingin mencoba hal kecil.

Ya. Hal kecil, tentu saja.

Hanya menulis.

Sebuah nama.

 

 

Love Note

“If the user of this book does not describe clearly how the target will fall in love and with whom, the target will simply fall in love with the user.”

 

Aku menatap tak percaya dengan apa yang kutulis. Aku nyaris tak percaya pada diriku sendiri. Melakukan hal selicik ini, meski tak terbukti kebenaranya, tetap saja menandakan bahwa aku berusaha mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas dan memaksa. Tidak dengan berusaha dan menerima apa adanya. Astaga, bisa-bisa aku bernasib tragis seperti Light Yagami. Meski tak terjadi apa-apa setelahnya, tetap saja jika ada orang melihat apa yang kutulis dibuku ini pasti mereka akan menyebar rumor. Aku tidak peduli, tapi orang itu.. aku peduli pada orang itu dan aku tidak mau ia mendapat masalah karena aku. Apalagi karena hal sepele seperti ini.

Kugunakan karet penghapus, untungnya aku tidak menggunakan ballpoint saat menulis tadi.

 

“Hei!”

 

Tubuhku kaku. Usahaku untuk menghapus tulisan juga terhenti. Aku yakin ada yang menyeruku. Suara tadi menyeru kearahku kan?

Oh Tuhan!

Dengan cepat kututup buku bersampul hitam yang hampir saja menghancurkan reputasiku.

Didepanku telah berdiri lelaki yang tadi kulihat tengah mengcover lagu Secondhand Serenade dengan kerennya.

 

“Yu…i?” beoku. Aku masih tak yakin jika yang didepanku ini benar-benar siswa yang kukagumi diam-diam selama hampir dua tahun aku bersekolah disini. Tidak! Jangan bilang kalau ini adalah efek dari apa yang kutulis tadi!

 

“Dari tadi aku melihatmu duduk disini. Aku tidak tau apa yang kau tulis sampai tidak sadar kalau gerimis begini. Sebaiknya kau berteduh, ke ruang music juga tidak apa-apa.”

 

Ah.. tentu saja. Aku terlalu berharap untuk sesuatu yang berlebihan. Dia hanya mengkhawatirkanku. Sekalipun ia tidak begitu mengenalku. Ya Tuhan, kenapa juga aku nyaris percaya kalau Love Note sialan itu akan berfungsi. Kurasa aku mulai sadar kenapa aku sering dibilang bodoh.

 

Diluar dugaan, hujan deras semakin mengguyur. Padahal tadi cerah, sekarang sudah gelap dan dingin. Kubuka telepon genggam flip-ku untuk membaca pesan singkat dari ibuku yang cemas karena aku belum pulang sementara diluar sedang hujan. Ibuku tau aku tidak ikut ekstrakuler apapun jadi wajar kalau ia cemas jam segini aku belum tiba dirumah. Sudah hampir jam empat sore. Bus selanjutnya baru akan datang setengah lima. Sepertinya aku harus menunggu lebih lama.

 

“Kau mau kopi susu, ini hangat?”

 

Aku nggak perlu sok-sokan jaga imej. Makanya aku terima tawaran dari Yui. Begitu mengikutinya ke ruang music, aku langsung berkenalan dengan teman-temannya yang juga member dari band yang digawanginya. Aku mulai menghafal satu persatu, yang berkacamata tapi tetap terlihat kece itu Saga, yang berambut pirang dan memakai piercing adalah Hiro, yang berambut panjang dan dikuncir adalah Mako, dan yang terakhir, yang paling sering mengajakku mengobrol setelah Yui, Shun. Itu adalah nama panggilan sekaligus nama beken masing-masing.

Aku senang mereka menerimaku. Setidaknya, menerima kehadiranku yang tiba-tiba seperti ini. Padahal aku sudah mengantisipasi akan suasana awkward.

 

“Shin-chan, aku masih heran kenapa kamu dinamai seperti anak laki-laki?” Tanya Shun sambil menyetem gitarnya.

Untung kopi susunya sudah kuhabiskan, aku bisa-bisa tersedak mendengar panggilan baru darinya yang tidak lazim itu.

 

“Jangan menyingkat namaku, aku jadi terdengar seperti tokoh anime cilik yang tidak pernah dewasa itu.”

 

“Hei hei, semua yang ada disini punya nama panggilan. Kaupun juga harus punya. Nama panggilan adalah nama singkat, jadi sesuai kan dengan namamu Shin-chan~”

 

“Tapi itu jelek, udahlah panggil Shinta aja, itu lebih baik.”

 

“Oke oke, tapi jawab dulu pertanyaanku tadi, apa ibumu berharap dirimu seorang laki-laki, atau bagaimana?”

 

“Bukan. Orang tuaku, terutama ibu, ingin menamai anak-anaknya dengan nama tokoh-tokoh dari mitologi India. Hanya saja selalu ada kesalahan saat mengeja ketika mendaftarkan akta kelahiran. Misalnya kakakku, yang niatnya ingin dinamai Rama, tapi akhirnya jadi Ranma. Lalu diriku, ibu ingin menamaiku Sita,tapi malah jadi Shinta. Begitulah.”

 

“Kalau tidak salah, Rama dan Sita adalah sepasang kekasih, bukan?” kali ini Mako menyela.

 

“Iya, terus?”

 

“Aneh saja kalau adik dan kakak dinamai dari nama sepasang kekasih, kalian tidak incest kan?”

 

Aku terbengong.

 

Incest?

 

Dengan kakakku?

 

Mending aku jomblo sampai mati lalu di alam bawah bertemu dengn Hades dan menjadi istrinya (Lho?)

 

“Ya nggak lah, aku juga nggak tau, mungkin keduanya hanya karakter favorit ibu dan kebetulan anak-anaknya laki-laki dan perempuan.”

 

“Heeh, lalu, apa kau bisa main music?”

 

Aku menggeleng.

 

“Kalau begitu kau pasti seorang atlit.”

 

“Bukan.”

 

“Hah? Tapi kau ada di sekolah ini karena kau punya bakat tertentu kan?”

 

“Entahlah, asal kalian tahu aku tidak memiliki bakat apapun. Dulu saat tes masuk aku hanya menyanyikan lagu musical dan beruntungnya aku diterima.”

 

Hening.

 

Sudah kuduga memang akan awkward.

 

Apa yang kuharapkan?

Aku bahkan tidak berandai bisa dekat dengan kelompok seperti mereka.

Aku yang menyendiri, aku yang susah bersosialisasi, aku yang pendiam, aku….

 

“Eh? Kalian mau latihan lagi? Kan hujan masih…. ”

 

Hujan tak lagi sederas sebelumnya.

 

“Coba nyanyikan!”

 

“Hah?”

 

“Lagu musical yang kau nyanyikan saat tes masuk. Akan kami buat versi band.”

 

Dan mau tidak mau akupun mulai bernyanyi.

 

Loving you keeps me alive, think again before you leave me

His love cannot be as true as the love I offer you

You’re wasting time pretending you belong to him

Come to your senses

Loving you keeps me alive; I’ll be in your heart forever

And you’ll be part of me from now till eternity

You’ve talked yourself into believing he’s the one

Such wild pretenses

 

 

 

The first time I set eyes on you

I knew I’d never be the same

I never knew I’d get such pleasure

Whispering your name

If loving you keeps me alive

Then how can leaving me be right?

Turn back and let me love you

Stay with me and let us dance into the night

 

You are the one, the only one

To make me see empty life I lead

You are the love

The only love I’ll ever need

 

The first time I set eyes on you

I knew I’d never be the same

I never knew I’d get such pleasure

Whispering your name

If loving you keeps me alive

Then how can leaving me be right?

Turn back and let me love you

Stay with me and let us dance into the night

 

###

“Tidak kusangka kau sekarang lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki.”

 

“Mereka anggota band sekolah kak, salah satu band sekolah, tadi saat hujan aku numpang berteduh di ruang music.”

“Tumben menjemputku, padahal aku bisa pulang sendiri.”

 

“Sapa juga yang niat jemput kamu, kalau bukan karena ibu yang maksa-maksa, padahal aku mau nonton sama Reina.”

 

Kalau orang yang sedang menyetir mobil ini bukan kakakku sendiri, sudah aku pites pites dia. Aku selalu mendengar dari teman-temanku jika kakak-kakak mereka selalu baik, perhatian dan memanjakan mereka. Setiap mereka cerita begitu, aku hanya mendengus. Kakakku?

Entah dimatanya aku ini apa, kadang aku merasa dia menyayangiku tapi sering aku merasa dia hanyalah setan jahil yang bahkan penjaga neraka tidak kuat menghadapi keusilannya.

Ya Tuhan, tau gini mending aku jadi anak tunggal aja.

Jangan denk, nggak enak jadi anak tunggal. Pasti di tuntut banyak. Di keluargaku, kakakkulah yang pastinya dituntut macam-macam. Sampai ia stress dan menumpahkannya padaku. Sialan!

Pernan dia gagal masuk Univeristas Todai, karena sebenarnya kakak lebih ingin masuk institute. Jadinya ayah marah, meski dia bilang nggak ambil pusing, nyatanya ia masuk ke kamarku, ngutak-atik komputerku sampai rusak.

Benar. Aku tau ia tertarik dengan IT dan elektro, tapi bukan berarti komputerku jadi kelinci percobaan kan?

Parahnya, ayah tidak langsung mengganti rugi, baru setelah aku naik ke kelas dua kemarin ayah membelikanku laptop.

Shit banget memang.

 

Tut tut

 

Aku meraba sakuku yang bergetar. Ada pesan singkat baru masuk.

 

Lain kali kita nyanyi bareng kaya tadi, ok?

 

Yuichi N.

 

Tuhan, maafkan aku! Tapi bolehkah aku sebentar saja merasa senang?

Mungkin Love Note itu tidak berfungsi apa-apa, tapi kuakui karena buku bersampul aneh itu aku jadi tidak sengaja dekat dengan Yui.

Aku juga dekat dengan teman-temannya meski baru hari ini aku bertemu dan berkenalan dengan mereka secara…. resmi.

Karena waktu masa orientasi dulu, aku sama sekali tidak berusaha berkenalan dengan semua sesame murid baru. Aku hanya berusaha menghafal beberapa teman sekelasku, itupun yang perempuan saja. Bukannya aku tak suka dengan anak laki-laki, aku hanya merasa terlalu canggung untuk berdekatan dengan mereka. Meski sebuah pengecualian untuk hari ini.

Baiklah, aku biarkan saja. Aku memutuskan, aku tidak akan menghapus apa yang kutulis tadi. Apapun yang terjadi nanti, biarkan itu menjadi kenangan yang kukenang sendiri.

 

Sampai dirumah aku langsung kekamar yang ada di lantai dua. Ibuku pasti mengerti. Hari sudah mulai gelap. Aku harus secepatnya mandi sebelum membantu ibu menyiapkan makan malam.

Jangan berpikir macam-macam.

Biasanya aku tidak begitu. Anggap saja hari ini hari istimewa.

Aku ini anak yang super malas, meski aku seorang perempuan.

Aku baru mengerjakan sesuatu ketika aku disuruh.

Aku lebih suka bersantai, melakukan hal tidak perlu, seperti menonton anime atau menonton drama musical.

Aku sedikit tidak menggubris ketika ayah lagi-lagi mulai menceramahiku, menyuruhku untuk mulai memikirkan cita-citaku. Memikirkan masa depan dan blah blah blah.

Cita-cita ya?

Aku tahu itu hal yang sangat penting dan memang sebaiknya dipikirkan sedini mungkin. Biar terarah. Tapi aku masih tidak tahu. Aku tidak tahu aku ingin menjadi apa di masa depan. Aku masih belum tahu ingin melakukan apa. Aku tidak memiliki bakat apapun dan nyaris tidak memiliki ketertarikan terhadap sesuatu.

Mmm…kecuali ketertarikan terhadap seseorang sih. Uwh~

Meski ayah tidak terang-terangan bilang, aku bisa menangkap jika ia juga ingin agar aku masuk dan diterima di Universitas Todai.

Astaga, padahal aku masih kelas dua. Ujian masuk Universitas juga masih setahun lagi.

Kakak sih enak, dari awal sudah memantapkan hati menjadi ahli IT, jadi ketika ia tidak masuk di Todai ia masih bisa membuktikan pada ayah jika ia berkualifikasi di tempat lain. Di institute yang sekarang ini ia ikuti.

Sedangkan aku?

Entahlah, kali ini aku menikmati saja masakanku—–eh—masakan ibuku maksudnya. Tinggal mengangguk-angguk saja kalau ayah menegaskan sesuatu nanti ceramahnya juga selesai sendiri.

 

Sekarang aku mulai lebih tertarik dengan telepon selular ku sendiri. Tentu saja. Biasanya ponselku sepi, hanya berisi pesan singkat atau riwayat panggilan dari itu-itu saja. Sekarang pun juga sepi, tapi paling tidak, di list kontakku sudah bertambah nomor-nomor yang membuatku tertarik mengamati ponselku lekat-lekat. Dan aku kembali teringat akan buku bersampul hitam.

 

Meski kutahu buku itu tidak berfungsi, entah kenapa aku tetap ingin coba-coba dan bermain-main. Apalagi penyulut niat jahilku itu adalah kak Ranma. Kalau ada seseorang disini, ia pasti bisa melihatku tengah menyeringai licik.

Astaga!

Padahal buku ini tidak berfungsi, dan aku masih berpikir untuk balas mengerjai kakakku?

Kurasa…. Aku memang bodoh.

The World You Gave Me, Itachi

This story is pure fiction. Original characters belong to ©Masashi Kishimoto-sensei. The rest is simply alive within my fantasy only, hehe 

Summary: Truth behind Itachi. What if Itachi had actually met one girl and had had something with her. It’s when the truth reveals that Sasuke is no longer the only one obliged to revive Uchiha clan XD (-_-)

Note: Saya hanya seorang penggemar Uchiha Itachi yang sangat tidak rela atas kematian Itachi *hiks
Cerita ini saya tulis jauh sebelum Itachi Shinden dirilis. Dan begitu tahu kalau sebenarnya Itachi pernah punya love interest (yah meskipun sad ending and tragic) saya luar bisa senang 😀
Tapi tetep, saya juga ingin liat Itachi berkeluarga dan bukan cuma dalam Tsukuyomi 😥 ;’( disamping memuaskan rasa penasaran saya seandainya Uchiha-Hyuga bersatu(?) xD dan entah mengapa, cerita ini feel-nya nggak jauh beda dari Itachi Shinden -__-
Cerita ini saya buat dengan mengarah pada alur asli Naruto, tetapi yah tetap dengan bumbu-bumbu imajinasi saya sendiri. Settingnya merupakan kelanjutan dari cerita aslinya. Seandainya Kishie-sensei tidak membuat karakter Itachi mati, saya berharap ia akan menemukan kebahagian tanpa perlu menebus dosa-dosanya (lagian kan misinya itu juga demi Konoha TT___TT)
Please kindly press ‘BACK’ if you dislike this story. Feel free to read and review (if you please tho)

The world now is in peace. Of course the ninjas are still alive. They had invented advanced technology, too. The will of fire is still blazing and igniting in each living, from the elders to the youngster, new generation.
One fine day, Hyuuga Hinata, The Seventh Hokage’s wife, wants to visit a village which is not a shinobi village. Yes, since long time ago, there are actually a few villages that did not have ninja force. Those villages simply run for trading. And when a threat seems approaching, the villagers simply ask for help from the shinobi village, such as the Hidden Villages, that hiring ninjas.
The war had ended after all.
One of Hinata’s guardians is, Sarutobi Mirai. They just arrived at Nijigakure. Hinata personally asked Mirai to accompany her wor walk. They go to market, restaurant and other places after firstly visiting the House of the Village Leader. In the middle of their way, Hinata is surprised as she saw a teenager girl, walk passing her. It is because the girl’s eyes. The girl Hinata saw has byakugan in her left eye. As far Hinata know, Hyuuga clan all is resided in Konoha. So, why? How come?
“Hey, wait!”
The girl stopped.
“You call me, Ma’am?”
Hinata then goes approaching the girl.
“I am Hinata from Konohagakure. You know, I’m just arrived here, and I would like to ask your help to accompany me, if you don’t mind.”
“Hinata-sama!” Mirai shout from behind.
Hinata quickly introduced Mirai as her only frieng so that she won’t be suspected. And mirai amazingly can understand the situation, since she realizes the girl has something.
“Very well, but maybe just for a few minutes. My mom will mad if I’m still not hom right there right now.”
Hinata is surprised again.
“Oh, then how about you take us to your house? I think I and Mirai need a place to rest too.”
The girl agreed.
But something is bothering her. Did she just let strangers following her home?
“I am sorry Hinata-san, Mirai-san. I know I may sound rude, but what is your true intention? Seems like you two actually want to follow me, there are many other villagers and yet you asked me who such is in a hurry?”
Hinata knows that. So, she finally spoke.
“Yeah, I am sorry. It’s just I want to know, about your eyes…”
Now is the girls’s turn to be surprised, but she was able to compose herself again.
Hinata continued “You see. You have the same eyes with me. It is impossible. I mean, if you are a member of Hyuuga clan….”
“Hinata-san, there’s a history of it. Only my mother knows. I only know what I can tell. There’s indeed Hyuuga’s blood in me, but… only a half.”
“A half?”
“As you see, only my left eye has the byakugan, right?”
Hinata is in silence for a moment.
“Since you admitted it, it means one of your parents is a member of Hyuuga clan, right?”
The girl looks away but is still nodding. “That’s my mother.”
“I see. That’s make a sense. If it’s your father, you should still acquire byakugan in both of your eyes. Even if it’s from your mother, you should actually acquire the complete byakugan eyes. But, you only have one; it must mean that your father had stronger kekkei genkai that dominate the kekkei genkai of byakugan.”
“Hinata-san, do you perhaps… perhaps know about what clan my father possibly belongs to?”
“Huh?”
“It’s just, my mother won’t tell me. She just always says that he is a great great person. I don’t even know how my father looks like. I don’t even know his name.”
Suddenly Hinata is taking a pity on that teen girl. There must be something. And Hinata herself cannot lie that she is curious too. In this world, there’s not much clan having kekkei genkai. And Hyuuga is one of the strongest. Another would belong to Yamanaka, Aburame, Akimichi and Uchiha. Those are that currenlty residing in Konoha. But still, for the fact that there is a Hyuuga live outside the village is…. weird.
“You say your mother is a Hyuuga, right? Would you let me meet your mother?”
“Uhm.. okay..”
“By the way, I still haven’t chance to know your name?”
“Uh oh.. I am sorry, I am Kirara.”

Kisame dan Itachi tengah ditugaskan oleh pain untuk menangkap bijuu ekor empat, Yonbi. Itachi dan Kisame pun berkelana mencari keberadaan sang Jinchuriki, Roushi, yang berasal dari Iwagakure. Untuk suatu alasan, Itachi membiarkan Kisame bertindak sendiri, karena ia yakin seorang Kisame sudah lebih dari cukup untuk melumpuhkan Roushi. Begitu mengetahui keberadaan sang Jinchuriki, Itachi pun berpisah untuk sementara dari Kisame.
Itachi memang menyembunyikan sesuatu. Bukan tentang misi penyusupannya di Akatsuki dengan menjadi salah seorang Akatsuki, namun tanpa memeriksanya pun Itachi tahu kalau ada yang salah dengan dirinya. Akhir-akhir ini ia kerap batuk darah. Memang tidak sampai sedikitpun mengganggu kelihaianya saat bertarung, tapi ia bisa merasakan jika penyakit ini cepat atau lambat akan melumpuhkan dirinya dari dalam. Meski sama sekali tak terlihat dari luar, tapi Itachi menduga rekannya, Hoshigaki Kisame itu mengetahu sesuatu dari dirinya namun tidak memperdulikannya. Itulah salah satu alasan Itachi memilih Kisame sebagai partnernya. Karena Kisame sama sekali tidak peduli. Di sela-sela misi, seperti sekarang ini misalnya, Itachi akan mengkonsumsi obat-obatan untuk menekan keganasan penyakit yang menggerogoti imun tubuhnya.
“Anda baik-baik saja?”
Itachi membuka matanya. Ia baru saja mengistirahatkan diri paska meminum obat. Entah dia ada dimana sekarang, karena tadi Itachi asal jalan saja mencari ketenangan. Yang pasti daerah ini cukup jauh dari Iwagakure dan bukanlah daerah yang familiar baginya.
“Sopan sekali kau mengganggu waktu tidurku!” sinis Itachi tapi kalem. Di depannya berdiri seorang wanita berambut hitam panjang, dengan tinggi semampai dan berparas…. Cantik..
Itachi memfokuskan apa yang dilihatnya. Bukan.. bukan karena wanita itu cantik.. tapi mata yang dimiliki wanita itu… sepasang byakugan!
“Tidur? Kukira anda tadi pingsan, karena anda kelihatan tidak sehat. Maaf kalau begitu, baiklah, aku pergi dulu.”
“Kau? Apa kau orang Konoha?”
Gadis itu menoleh menatap Itachi keheranan.
“Konoha?” Gadis itu berbalik dan berdiri lagi di depan Itachi.
“Apa kau dari Konoha?” Tanya gadis itu balik pada Itachi.
Entah gadis itu pura-pura tidak mengerti atau bagaimana yang pasti Itachi bukanlah tipe orang yang suka mengulur-ulur waktu. Tanpa dikomando pun, 3 koma sudah terbentuk di mata mode Sharingan-nya.
Gadis itu lantas terkejut.
“U-Uchiha?!!”
“Kau tahu soal Uchiha berarti sudah jelas kau berasal dari Konoha—–” belum tuntas Itachi berkata, gadis itu kembali menimpali.
“Jadi benar anda dari Konoha? Bagaimana di sana? Sudah lama sekali aku (ada sedikit keraguan) tidak kesana.”
Kali ini Itachi mulai bingung.
“kau seorang Hyuuga kan?” Tanya Itachi.
“Anda melihat mataku rupanya. Mata byakugan memang tidak bisa disembunyikan seperti Sharingan.” Dan kemudian gadis itu tergelak kecil.
“Kenapa kau ada disini? Dan mengapa aku tak pernah melihatmu sebelumnya?”
“Apa kau begitu jenius sampai menghafali semua penduduk desa? Hahaha.. aku memang tidak tinggal di Konoha. Bisa di bilang aku memutuskan untuk pergi.”
Alis Itachi bertaut.
“Apa terjadi sesuatu? Kau keberatan menceritakan yang sebenarnya terjadi?”
“Kenapa anda penasaran? Dan tentu saja aku keberatan, menceritakan hal yang selama ini kupendam. Apalagi bercerita kepada orang asing seperti anda.”
“Itachi, Uchiha Itachi. Dan aku seorang buronan dari Konoha.”
“Buronan? Kau seorang kriminal? Sekarang bagaimana aku yakin kalau kau tidak akan membahayakanku. Kau harus tahu kalau aku bukan seorang shinobi, Itachi-san.”
“Apa maksudmu? Kau memiliki byakugan..”
“Ya, aku bisa menggunakan byakugan. Tapi aku tak pernah berlatih menggunakan jutsu-jutsu. Karena di Nijigakure, tidak ada akademi ninja seperti di Konoha.”
Itachi akhirnya tahu kalau ia tengah berada di sekitar Nijigakure.
“Aku tentu saja pernah ingin menjadi kunoichi yang hebat, menjadi pahlawan yang rela mati demi desa.” Gadis itu akhirnya bercerita.
“Aku masih baru berusia lima tahun saat itu, saat sedang bermain bersama teman-temanku di sekitar hutan. Lalu muncullah shinobi-shinobi, yang entah siapa dan darimana, yang aku tahu hanyalah mereka berhasil menculikku. Aku mencuri dengar pembicaraan mereka, sebenarnya mereka memiliki rencana menyusup ke rumah utama untuk menculik siapapun yang berasal dari keluarga utama, untuk dicuri mata byakugannya. Saat itu, salah satu mereka melihatku, dan begitu mengetahui jika aku seorang Hyuuga, mereka mengubah rencana. Sehingga akulah yang diculik.”
“Lalu siapa yang menyelamatkanmu?”
“Menyelamatkanku? Bahkan ketika secara ajaib aku mampu melarikan diri dan berusaha menemukan jalan pulang, yang kulihat hanyalah sebuah desa yang hancur. Aku melihat sendiri dari kejauhan bagaimana siluman rubah berekor sembilan itu membunuh ayah, ibu dan kedua kakakku. Saat itu juga langkahku terhenti, aku begitu takut. Dengan masih gemetar aku berlari sejauh mungkin. Dan disinilah aku berada. Melupakan semua nya.”
“Dan memutuskan untuk tidak menjadi shinobi? Bukankah itu terlalu pengecut?”
“Aku memang pengecut. Tapi aku sudah cukup kehilangan. Jika aku menjadi shinobi, aku mungkin kuat, tapi akan ada orang yang meminta bantuanku, mengandalkanku, yang berarti pula aku akan memiliki musuh. Pada akhirnya segala yang kumiliki dan kusayangi lah yang menjadi jaminan. Aku tidak mau seperti itu. Bahkan jika aku diserang dan dibunuh, setidaknya orang yang melakukan itu tidak mengambil apa yang telah kurajut kembali.”
Itachi seakan merasa di sindir. Tapi pengorbannya benar-benar muncul dari sebuah itikad tulus. Itikad untuk melindungi desanya. Namun alasan gadis yang belum ia ketahu namanya itu tidak bisa disalahkan juga. Setiap orang berhak memilih.
COUGH
Gadis itu menoleh kearah Itachi yang membungkam mulutnya. Seperti yang ia duga dikenalnya, orang asing berjubah motif awan merah itu sedang tidak baik-baik saja. Tidak seharusnya ia peduli pada orang asing apalagi seorang shinobi buronan dari desa kuat seperti Konoha. Bukan tidak mungkin kan lelaki yang mengaku bernama Uchiha Itachi itu mencelakakannya. Namun saat melihat percikan darah merembes dari sela sela jari Itachi, gadis itupun mengambil sesuatu dari dalam ranjang yang sedari tadi digendongnya.
“Minumlah, ini akan membantu meredakan batuk darahmu.”
Tidak punya pilihan, Itachi pun menerima botol berisi cairan yang entah terbuat dari apa, rasanya aneh, namun begitu menegaknya, batuknya mulai berhenti.
“Kau seorang tabib?”
“Begitulah, aku bukan ninja dokter. Tapi aku selalu percaya dengan ramuan buatanku. Aku mempelajarinya dari seorang dokter di Nijigakure yang telah mengasuhku sedari kecil.”
Itachi paham sekarang. Gadis Hyuuga ini memulai dari awal kehidupannya. Dan tidak ingin hal serupa di masa lalu, dimana sebenarnya dirinya terlibat, terulang lagi pada orang-orang yang disayanginya.
“Itachi-san, boleh aku memeriksamu?”
Itachi memandang gadis itu, yang tampak menghela napas jengah.
“Aku hanya ingin memastikan, apa persisnya penyakit yang kau derita?”
“Lalu, apa kau juga tahu cara untuk menyembuhkannya?”
“Apa maksudmu? Seorang ninja buronan pastilah bukan ninja main-main. Tapi kenapa kau terdengar pesimis seperti itu?”
Tanpa menunggu Itachi untuk protes kedua kalinya, gadis itu menyibak jubbah yang dikenakan Itachi. Menaruh keranjangnya disamping, gadis itu memeriksa denyut nadi di leher Itachi, dan juga detak jantungnya, sebelum kemudian mengaktifkan byakugan miliknya.
Itachi mengetahui hal baru lagi. Dan daripada memberontak, iapun memilih diam dan menurut saja. Entah kenapa ia yakin gadis Hyuuga ini takkan berbuat macam-macam(??).
Membaca raut muka gadis didepannya, Itachi sudah bisa menebak separah apa penyakitnya.
“Selama aku meminum obat-obat ini, sisa umurku masih bisa kuperpanjang.” Urai Itachi sambil menunjukkan beberapa botol pil yang ia sembunyikan dibalik jubahnya.
“Itachi-san, kau pasti ninja yang sangat hebat. Terbukti dari betapa lihai kau memanfaatkan seluruh bagian tubuhmu untuk menggunakan jutsu.”
Itachi spontan sedikit terkekeh.
“Itachi-san, aku tahu sesuatu yang lebih baik daripada pil-pil itu.”
“Huh?”
“Ikutlah denganku!”
Itachi pun mengikuti gadis yang membawanya ke sebuah air terjun. Air terjun itu unik, karena di hulunya terlihat banyak lengkungan pelangi. Mungkin dari situlah nama desa ini berasal.
“Kau mencari apa, Hyuuga?”
“Siput emas.” Jawab gadis itu sekenanya.
Itachi berfikir, apa yang akan gadis itu lakukan dengan siput emas. Itachi bahkan tidak yakin hewan seperti itu ada.
“Kenapa tidak ada….” Keluh gadis itu. Sementara Itachi hanya duduk santai diatas bebatuan sungai, tak mengindahkan aktivitas si gadis Hyuuga. Gadis itupun mengaktifkan byakugan. Apa yang ia cari memang sangat langka karena manfaat besarnya. Dan dapat! Tepat dibawah derasnya air terjun.
“Itachi-san, kau lihat ini!” Gadis itu menghampiri Itachi dan menunjukkan seekor siput bewarna keemasan di telapak tangannya.
“Baru pertama kali aku melihat yang seperti ini.”
“Ini memang tidak bisa menyembuhkanmu secara total. Tapi ini jauh lebih efektif untuk memperpanjang waktu hidupmu dibandingkan dengan multivitamin yang sering kau konsumsi itu. Asalkan, kau tidak berlebihan dalam menggunakan jutsumu. Apalagi kau seorang pengguna Sharingan.”
“Sepertinya kau tahu banyak tentang shinobi. Apa kau juga tahu banyak soal Sharingan?”
“Dulu aku sempat memiliki teman dari keluarga Uchiha. Aku sudah hampir lupa wajahnya, tapi aku sering memanggilnya kak Sishui. Kak Sishui orang yang hebat dan juga baik. Dia sesekali membelikanku dan teman-teman dango dan mengajari kami menggunakan shuriken secara aman. Dia pernah cerita jika ia cukup bangga terlahir dari klan kuat seperti Uchiha karena itu ia ingin menjadi shinobi hebat untuk melindungi klan dan juga desanya.”
Dada Itachi sedikit tercekat. Bagaimana gadis ini mengenal Sishui?
“Apa kau tidak penasaran sama sekali apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa penyerang siluman rubah berekor sembilan itu?”
“Itu sudah lama sekali, dan aku benar-benar tidak peduli. Keluargaku sudah tiada. Aku hanya ingin hidup dengan damai. Tidak ingin terbawa perasaan marah, benci, dendam, ataupun penyesalan. Sekarang, makanlah siput ini.”
Tanpa ragu Itachi pun melahap binatang keemasan itu.
“Kau benar-benar menelannya?”
“Kau yang menyuruhku?”
“Sama sekali tidak jijik?”
“Ninja yang hebat tidak pernah merasa jijik.”
Gadis itu tersenyum simpul.
“Apa kau pergi sendirian, Itachi-san?”
“Tidak. Begitu keluar dari Konoha, aku bergabung dengan sebuah organisasi bernama Akatsuki. Jubah serta cincin yang kupakai ini adalah tanda jika aku seorang anggota Akatsuki. Kau lihat, aku telah sangat mengkhianati desaku dengan bergabung dalam Akatsuki.”
“Memang apa yang menjadi target Akatsuki? Apa kalian melakukan penyerangan terhadap negara-negara kecil lalu ingin membentuk system pemerintahan yang baru?”
“Kenapa kau ingin tahu?”
“Dan kau tidak harus menjawabnya Tuan Uchiha.”
Gadis itupun mulai beranjak pergi, sebelum Itachi menyahut.
“Kau tahu, akulah dalang di balik kematian orang tuamu. Dan juga Sishui.”
Gadis itu hanya menatap Itachi.
“Sudah kubilang aku tidak peduli lagi.”
“Bukankah karena peristiwa itu kau berada disini, terpisah dari klanmu?”
“Apa arti sebuah klan Itachi-san? Meninggalkan klan bukan berarti aku sudah melupakan dan tidak bangga sama sekali menjadi bagian di dalamnya. Dan klan itu sendiri tidak akan hancur hanya karena kehilangan satu anggotanya. Aku disini karena aku merasa lebih baik dan klan ku pun baik-baik saja disana.”
Itachi takjub dengan efek pada tubuhnya usai memakan siput emas itu. Tubuhnya terasa lebih ringan dan bertenaga.
“Kalau begitu…” gadis itu hendak undur diri, meski sejujurnya ia masih ingin bersama Itachi entah mengapa, namun ia tahu Itachi bukanlah orang yang menyukai kebersamaan.
SRET
“Eh? Apa yang terjadi Itachi-san?” gadis itu bingung dan panik karena tiba-tiba seperti berpindah dimensi.
“Ini adalah salah satu ninjutsuku, Hyuuga. Tsukuyomi. Kau berada dalam ilusiku.”
“Itachi-san! Kau tidak benar-benar akan mencelakai ku kan?”
Itachi-pun menghentikan Tsukuyominya mengembalikan kesadaran gadis itu.
“Maaf, aku hanya menguji. Seperti nya hewan aneh tadi mulai menunjukan efeknya.”
“Sebagai musuh, kau benar-benar orang yang berbahaya Itachi-san.”
“Apa bagimu aku seorang musuh?” Tanya Itachi balik. Ia melepas jubahnya dan meletakkan cincin shu diatas jubahnya. Menghampiri gadis Hyuuga itu.
“Terimakasih.. uhm…”
“Hikari, Hyuuga Hikari.”

Hinata akhirnya sampai di kediaman Kirara.
“Kirara, kau sudah pul—” Hikari cukup terkejut melihat putrinya membawa dua orang tamu, yang dalam beberapa saat ia tahu darimana dua orang itu berasal.
“Kalian, dari Konoha?”
“Benar. Perkenalkan, aku Hyuuga Hinata, dan ini temanku, Sarutobi Mirai.”
“Perkenalkan juga, aku ibu dari Kirara, Hyuuga Hikari.”
Benar-benar seorang Hyuuga.
“Silahkan masuk.”
“Terimakasih.”
“Aku tahu, Hinata-san dan Mirai-san, datang kemari bukan hanya untuk berkunjung. Aku tidak keberatan jika harus menceritakan cerita panjangku sampai kesini dan memisahkan diri dari klan.”
“Yang saya ingin tahu, Hikari-san. Mengapa anda tidak pernah sekalipun kembali ke Konoha?”

“Hahaue, apa kakak belum kembali?” Tanya Kirara yang tiba-tiba menginterupsi.
“Hari ini kakakmu akan pulang telat Kirara.”

Hinata cukup antusias mendapat informasi baru ini.
“Kakak? Jadi Kirara memiliki saudara?”
“Ya. Kirara dan kakaknya adalah saudara kembar.”
“Hikari-san, apa kakak Kirara juga memiliki mata yang sama dengan Kirara?”
“Hm. Tapi aku harap, kedatangan kalian kemari bukan untuk menanyakan bagaimana anak-anakku mewarisi kekkei genkai seperti itu.”

Sementara itu, Kirara yang sengaja tengah menguping, sedang berharap-harap cemas.
‘Kumohon Hinata-san, buat Hahaue menceritakan yang sebenarnya..’

“Tentu hanya anda lah yang berhak atas semua itu, Hikari-san. Tetapi saya harap anda mau datang ke Konoha Hikari-san. Ayah pasti akan sangat senang jika tahu masih ada dari klan kita di luar Konoha. Kau tidak perlu tinggal bersama kami. Hanya, anggaplah seperti silaturahmi keluarga. Selain itu, aku berharap kau akan mempertimbangkan saranku ini, agar anda mau memasukkan Kirara dan kakaknya ke Akademi.”
“Akademi? Belajar menjadi shinobi? Aku hanya tidak ingin mereka terlibat masalah hanya karena menjadi shinobi.”
“Seperti yang anda tahu, dunia sekarang sudah jauh lebih aman. Begitu juga dengan Konoha. Belajar ilmu ninja bukan hanya agar menjadi kuat, tetapi juga untuk mencari jati diri. Saya yakin anak-anak anda akan memerlukannya.”

“Aku pulaaaang.”

Ditengah pembicaraan serius Hinata dan Hikari, muncullah seorang anak lelaki berambut hitam panjang dan lurus, yang diikat dan yang hampir mengejutkan Hinata karena sedikit mengingatkannya akan Neji.
“Okaeri, Hiruma.”

Setelah menerima ajakan Hinata untuk mengunjungi Konoha, Hikari akhirnya menemui pemimpin klannya, yang tak lain adalah ayah Hinata, Hyuuga Hiashi. Ia juga tahu apa saja yang telah terjadi di Konoha selama ini, termasuk apa yang terjadi di perang shinobi ke empat. Dan ketika putra-putri kembarnya, terutama Kirara begitu antusias ingin belajar menjadi ninja, Hikari pun akhirnya mengizinkan mereka untuk terdaftar di Akademi Konoha. Ia juga telah menemui suami Hinata, yang merupakan orang nomor satu di Negara ini, Sang Hokage ke-tujuh, Uzumaki Naruto.
Hikari memutuskan tinggal di Konoha untuk sementara, sampai anak-anaknya sudah bisa beradaptasi penuh dengan teman-teman barunya dan siap ia tinggalkan. Ketika para ibu termasuk Hinata, Ino dan Sakura mengajaknya jalan-jalan di Konoha, Hikari tertegun sejenak ketika tahu bahwa Sakura, ternyata bersuamikan seorang Uchiha, yang ia tahu bernama Uchiha Sasuke.
Sasuke yang hari ini menjemput Sarada dari Akademi, cukup terkejut saat melihat sendiri sepasang anak kembar yang diceritakan Naruto beberapa saat lalu. Si kembar itu benar-benar unik. Terutama kekkei genkai apa yang mereka warisi. Meski usia si kembar itu jauh lebih tua dibandingkan anaknya, tapi menjadi ninja konoha berarti harus memulai dari nol, alias dari tingkatan genin. Tak peduli berapapun usianya karena memang seperti itulah aturannya.
Sampai sekarang belum ada yang bisa menganalisa tentang keunikan mata Kirara dan Hiruma. Dan sebagai orang yang lebih tahu, Hiashi memiliki dugaan kuat, namun ia memilih diam. Jika mengenai kekuatan mata, hanya ada satu yang menjadi rival klan Hyuuga. Tapi masalahnya, siapa?
Saat mendaftar di akademi pun, Hikari tetap kukuh menolak memberitahukan identitas ayah biologis dari kedua anak kembarnya.

“Ibu, sekalipun ayah seorang penjahat yang diburu, aku tidak peduli, aku hanya…”
“Kirara, cepat atau lambat kalian pasti akan tahu, ibu yakin itu, karena ibu hanya ingin, waktu sendiri yang memberikan jawabannya pada kalian.”
“Ibu, aku ikut ibu pulang saja ke nijigakure.” Timpal Hiruma.
“Lalu kau akan meninggalkan Kirara sendirian disini? Kau harus menjaga adikmu, Hiruma.”
“Lalu kenapa tiba-tiba ibu mengikutkan kami ke Akademi? Kirara tidak masalah, tapi aku?”
“Jangan pura-pura Hiruma, ibu tahu bagaimana setiap hari kamu berlatih saat mencari tanaman obat di hutan. Seperti yang bibi Hinata bilang, belajar di Akademi, bukan lah sekedar melatih diri menjadi kuat, tapi juga untuk menggali lebih jauh apa yang selama ini tidak kita ketahui.”
Kirara mendongak,
“Termasuk.. tentang ayah?”

“Itachi-san, apapun yang kukatakan padamu, keputusanmu tetap takkan berubah kan?” Tanya Hikari nanar. Sungguh ia ingin merengkuh orang yang kian jauh dari jangkauanya itu. Mendekapnya erat dan tak pernah melepasnya pergi.
“Hn.” Namun itulah jawaban mutlak yang dilontarkan Itachi. Ia telah melakukan dosa. Dosa tak termaafkan. Pada adiknya Sasuke, pada keluarganya, dan pada klannya. Meski semua untuk menunjukkan kesetiaan dan pengabdiannya pada desa tercintanya, desa tempat lahirnya, Konohagakure no sato. Itachi bertekad menebus dosanya dengan dirinya.
Tapi, meski begitupun, meski ia harus menelan pahit, Hikari takkan menyesali sedetikpun waktu yang telah ia lewati. Ia bahagia. Meski untuk saat itu saja. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi melihat determinasi kuat Itachi ia tak yakin jika mengatakan hal itu adalah keputusan yang tepat. Hikari, ia hanya ingin Itachi bahagia. Bahkan jika ia harus menemui kematiannya, ia tetap berharap Itachi menemukan kebahagiannya. Melepaskan segala kepedihan dunia yang selama ini terus mendera bathinnya tanpa seorangpun tahu.
“Hikari, hontou ni, arigatou.”
Sekali lagi Itachi menatap sepasang mata putih itu. Ia benar-benar tulus mengucapkan kata terimakasih itu. Karena ini untuk yang terakhir.
“Hai. Sayonara, Itachi-san.”
Hikari menatap daun pintu yang tertutup. Memisahkan penglihatanya dari siluet punggung Itachi yang takkan pernah lagi dijumpainya. Lelehan hangat mengalir dari kedua sudut matanya. Ia tahu, di dunia ini tak pernah ada yang namanya keadilan sejati. Tetapi kalau ia boleh memohon kepada Tuhan, ia ingin Itachi menemukan kebahagiannya. Demi Tuhan, lelaki itu terlalu banyak memikul beban penderitaan. Sudah terlalu banyak. Bahkan derita yang selama ini ia tanggungpun mungkin tidak ada apa-apanya. Karena itu ia rela melakukan apapun asal itu bisa mengurangi beban yang ditanggung Itachi. Berbagi rasa sakit. Memberikannya sedikit tempat berlindung. Hikari menaikkan kembali helai selimut untuk menutupi tubuhnya. Memejamkan mata. Meski nyatanya ia tak juga bermimpi, melainkan menangis semalaman.

Hikari menatap wajah menuntut putranya. Terdapat garis halus disisi kanan dan kiri hidungnya. Sangat mengingatkannya akan seseorang. Seseorang yang senantiasa ia doakan sepanjang harinya.
“Hiruma, kau dan Kirara adalah segalanya bagi ibu. Ibu benar-benar mencintai kalian lebih dari ibu mencintai diri ibu sendiri.”
Ya. Tanpa diberitahupun Hiruma tahu itu. Ia sudah bukan anak kecil lagi. Ia juga menyayangi ibunya dan juga Kirara. Sangat sangat menyayangi keduanya. Lebih dari apapun.
“Apa… Apa ayah menyakiti ibumu?”
Hikari menggeleng. “Justru, dia telah memberikan dunia pada ibu.”
“Dunia?”
“Ya. Kau dan Kirara. Jika ada yang harus disalahkan itu ibu. Karena ibu memang tak memberitahunya soal keberadaan kalian. Ibu melepasnya pergi. Tapi hanya itulah yang bisa ibu lakukan untuknya.”
“Ibu.. maaf.. aku…” Hiruma hanya bisa merengkuh sang ibu dalam pelukan.
“Tentu ibu ingin agar dia tetap disini, bersama kita, melihat bagaimana kalian tumbuh… tapi ibu tidak berhak. Ia, ayahmu, dia terlalu banyak memikul beban yang sedikitpun tak bisa ibu bantu ringankan…”
“Ibu.. setidaknya, jawablah satu pertanyaanku ini. Apa dia seorang Uchiha, seperti Sasuke-sensei?”
“Ya.”
“Aku tahu sekarang. Aku mengerti. Aku minta maaf jika aku terus mengganggu ibu dengan rasa penasaranku. Ibu lihat saja, aku akan berlatih giat setiap hari dan menjadi kuat. Aku akan melindungi semua yang kusayangi. Aku akan melindungi ibu dan Kirara.”

###

“Sasuke, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan.” Ucap Naruto yang tengah berdiri diatas Hokage Mountain bersama rival abadinya, Uchiha Sasuke.
“Aku tahu kau sedang menyembunyikan perasaan bahagiamu mengetahui hal ini.”
“Berhenti bersikap sok tahu,Usuratonkachi.”
“Oy oy, kau mulai tak sopan.”
“Tsk.”
“Tapi, ini benar-benar diluar dugaan bukan. Aku ragu Itachi sendiri mengetahui hal ini.”
“Orokana aniki.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan? Menjadi pengasuh mereka?”
“Jika aku melakukannya mereka tidak akan menjadi ninja sejati. Kau harusnya tahu lebih baik akan hal itu kan, Nanadaime-sama?”
“Ah. Tapi jujur saja Sasuke. Aku mungkin lebih bahagia dari dirimu. Karena sekarang kesempatan untuk mengembalikan kembali klan Uchiha menjadi semakin besar. Tidak harus bergantung padamu dan Sarada.”
“Apa maksudmu?”
“Ahahahahaha… by the way(?) kapan kau akan memberikan Sarada seorang adik?”
“Damatterou!”

Chronicle of Nine Tailed Beast

Pernahkah kau mendengar kisah tentang kaum van helsing dengan vampire? Ketika seorang pemburu diburu oleh pemburu lainnya yang merasa keberadaan mereka merugikan. Namun memburu seorang pemburu bukanlah hal mudah seperti memadamkan api dengan air. Tak jarang kau diharuskan menyalakan api baru yang lebih besar dan lebih kuat untuk menelan api merah yang menyala waspada. Angin. Elemen tersendiri yang keberadaanya mampu membuat elemen lainnya menjadi lebih kuat. Entah itu air. Entah itu api.
Ini bukan kisah perseturuan antara kaum van helsing dengan vampire. Namun ini tidak ada jauh bedanya dengan kisah mereka. Ketika muncul sebuah eksistensi terlarang yang tidak diharapkan. Sebuah eksistensi yang kemunculannya merupakan pertanda sebuah bencana.
Freya Arlmore. Gadis belia berusia enambelas tahun yang mau tidak mau harus sudah diperkenalkan dengan suatu hal tak lazim pada anak gadis seusianya. Apa yang diajarkannya tidak boleh sampai diketahui orang lain. Hanya ia dan keluarganya. Setiap malam Freya harus melatih dirinya. Mengasah kemampuan yang diwariskan melalui darah keturunan yang mengalir dalam dirinya. Ia harus siap menghadapi sesuatu yang ia sendiri masih belum tahu pasti ada tidaknya. Tapi Freya bukanlah tipe pembantah. Ia akan menurut jika itu bisa memuaskan keinginan orangtuanya.
Hanya, hal yang diantisipasinya itu sama sekali bukan yang seperti ia duga. Bahkan ia tak mengharapkan hal itu terjadi. Freya berharap jika ia hanya sedang bermimpi buruk. Ia tak pernah tahu. Ia sama sekali tak pernah mengira jika orang yang paling dekat dengannya justru menjadi objek yang harus ia hilangkan.
Freya tahu ia takkan pernah sanggup melakukan tugasnya. Tapi ia harus. Ia tidak bisa memutar balik jalan kehidupannya. Bukan soal takdir. Tapi soal pilihan. Freya tidak pernah percaya akan ketetapan takdir. Ia justru yakin selama masa depan masih ada selangkah didepannya apapun bisa ia lakukan untuk menulis takdirnya sendiri. Tapi, kini ia hanya punya satu pilihan. Membunuh. Atau terbunuh.
Keluarga Arlmore dikenal dengan ciri unik biologis mereka yang memiliki warna rambut merah terang. Dari luar, mungkin banyak orang mengira jika keluarga Arlmore mungkin suka mewarnai rambut mereka alias menyemirnya. Padahal itu asli. Genetik itu sudah warisan turun-temurun dari para leluhur keluarga Arlmore. Dan selain rambut masih ada hal lain yang juga diwariskan turun-temurun dalam keluarga yang cukup terpandang itu. Namun tentu saja tidak diketahui oleh orang manapun.
Mata pemilik darah keturunan Arlmore memiliki kemampuan khusus yang tidak akan ditemukan pada mata manusia biasa. Iris mereka mampu berubah warna sesuai dengan energi dalam tubuh yang mereka keluarkan. Itulah yang setiap malam Freya pelajari. Ia mengasah tubuhnya untuk mampu memancing keluar energi dalam miliknya yang perlahan akan merubah warna iris matanya secara bertahap. Normalnya, seperti orang lainnya, iris mata Freya aka berwarna cokelar dengan pupil hitam ditengahnya. Namun ketika energinya menguar keluar iris itu akan berubah menjadi merah. Jika energi tersebut digunakan untuk tujuan tertentu, maka warna yang dihasilkan irisnya pun akan menjadi berbeda. Iris biru biasanya akan menghipnotis seseorang. Iris kuning untuk mengunci pergerakan tubuh seseorang hanya dengan menatap matanya secara langsung. Iris ungu pucat untuk menajamkan penglihatannya hingga jarak ribuan meter bahkan kilometer. Jika dari ungu pucat berubah menjadi ungu, pemilik darah Arlmore akan mampu melihat secara leluasa bahkan dalam keadaan gelap gulita sekalipun. Sedangkan iris merah, akan membuat mereka bergerak lebih gesit dan jika sudah menjadi keemasan, kekuatan mereka sudah nyaris tidak mungkin dikalahkan manusia manapun, kecuali…. Kecuali jika lawan mereka bukanlah manusia.
Iris hijau menandakan Freya akan lebih mudah menyatu dengan alam dan menyerap energi daripadanya. Dengan itu pula ia memanfaatkan teknik berbasis elemen angin untuk membantunya melawan musuh. Freya memilih teknik berbasis elemen angin sekalipun tahu jika lawannya adalah pengguna teknik berbasis api. Itu karena ia tidak ingin memadamkan lawannya. Freya justru ingin membebaskan lawannya.
Freya bisa dengan leluasa memunculkan dua buah kipas kapanpun ia mau. Dengan kipas-kipas itulah ia menarik energi angin dari alam. Pertarungannya malam ini tidak akan mudah. Ia bahkan sudah siap mati. Tapi sebelum itu, ia harus mencapai apa yang menjadi tujuannya. Berbagai makhluk menyeramkan dan brutal, yang tidak akan mampu dideteksi indera manusia biasa, berdatangan menyerangnya. Rupanya benar-benar tidak mudah untuk sekedar mendekati musuh utamanya. Musuhnya itu kini mungkin sedang bersantai menunggunya terluka parah. Tapi Freya takkan membiarkan apapun menghalangi misinya.
Memang malam yang panjang. Freya bahkan menolak untuk menangisi seluruh keluarganya yang entah bagaimana bisa diperdaya dan akhirnya dibunuh oleh sosok yang kini menyeringai angkuh dihadapannya. Dendam? Tentu saja. Tapi bukan karena ingin membalas dendam ia berdiri di tempat itu. Sosok yang muncul dari balik kegelapan itu perlahan menampakkan dirinya yang berubah ke wujud aslinya. Seekor monster rubah raksasa dengan sembilan ekor yang tiap ekornya mendengungkan terompet kematian. Monster siluman yang harusnya hanya ada dalam legenda atau mitos. Monster siluman yang seharusnya tidak terlahir dimuka bumi ini karena mengancam nyawa jutaan manusia.
Freya memusatkan seluruh aliran energi dalam tubuhnya hingga irisnya berwarna keemasan. Ia akui siluman rubah berekor sembilan memang kuat. Namun ia harus mengakhiri semua malam itu juga. Freya menggunakan teknik bayangan yang membuat kipasnya membelah menjadi empat yang menancap ke empat titik arah mengitari sosok raksasa sang rubah yang warna iris ruby-nya memancarkan kebencian yang amat mendalam. Rubah berekor sembilan memang monster siluman yang tak mengenal ampun dan belas kasih. Ia bahkan mampu membuat bumi ini menemui kiamatnya. Ia membenci eksistensi manusia. Ia membenci semuanya. Bahkan bisa dikatakan, ia adalah metafora dari kebencian itu sendiri. Bukan nafsu, amarah atau dendam. Hanya kebencian. Kebencian yang mampu menggerogoti hati manusia hingga hilang akar kendalinya.
Rubah raksasa itu menatap Freya nyalang. Amarahnya tersurat begitu jelas di matanya yang kian memerah. Geramannya mampu membuat seluruh pohon di hutan itu roboh dan kehilangan sari kehidupannya. Sang rubah membuka mulutnya untuk menarik energi besar yang dimilikinya membentuk sesuatu yang dipastikan bisa melenyapkan sebuah pulau. Rubah itu marah karena teknik bayangan kipas Freya ternyata mengunci pergerakan keempat kakinya. Dan Freya, ia tengah menyiapkan tahap selanjutnya yang juga sekaligus tahap terakhir. Ia mengeluarkan sebuah laras pedang yang tersembunyi dalam dadanya. Dengan tatapan tanpa gentar ia melayangkan pedang tersebut kearah sang rubah yang disaat bersamaan mengarahkan bola energi sangat besar kearahnya.
Sejarah adalah sebuah kebohongan. Kebohongan yang dianggap realita bagi siapa saja yang memenangkan pertarungan dan bertahan hidup. Orang yang mempelajari sejarah tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada waktu dan tempat yang bukan zaman mereka. Mereka hanya berasumsi dan berspekulasi dari bukti-bukti yang mereka temukan. Bukti-bukti yang terlihat otentik namun nyatanya bisu. Menganggap kepercayaan benar-benar sebuah realita yang terjadi di masa lampau. Menjadikannya sebuah teori. Teori yang juga akhirnya dianut banyak orang. Miris. Tentu saja akan menyedihkan bagi pihak yang kalah dan harus mati. Mereka tidak akan mampu menceritakan sejarah dari sisi mereka. Karena mereka kalah.
Pedang milik Freya itu akhirnya mampu menembus pusat kehidupan sang rubah. Wujudnya menyusut. Energinya kian memudar. Apa artinya Freya berhasil menjadi pemenang? Tentu tidak. Selamanya keberadaan siluman rubah berekor sembilan itu hanya menjadi sebuah mitos. Begitu juga dengan Arlmore. Karena disaat yang sama fisik Freya pun hancur dan entah kenapa hanya menyisakan sebuah kalung berliontin permata biru yang selama ini setia melingkar di lehernya. Freya gagal menjadi pemenang namun ia berhasil mencapai tujuannya. Energi rubah itu tidak hilang. Hanya terkunci. Terkunci pada sosok yang tengah terpaku melihat permata biru itu terpelanting keatas yang kemudian jatuh ketanah berabu. Sosok itu tidak menghiraukan rasa sakit akibat pedang yang menghujam dada kirinya. Pedang itu sama sekali tidak menyakitinya. Bahkan sama sekali tidak menyentuh jantungnya. Karena pedang itu berubah menjadi tattoo segel yang akan selamanya mengunci energi sang rubah dalam dirinya. Yang akan turut mati jika suatu saat dirinya mati. Saat ini sosok yang perlahan kembali ke wujud manusianya itu tengah berjuang untuk mengatakan sebuah nama. Fre-ya.
Ia tidak membayangkan jika akan membunuh orang terkasihnya ditangannya sendiri. Ia kehilangan akal sehatnya. Hanya karena ambisi sesaat. Aaron. Nama pemuda yang duduk terkulai memandang hampa atas apa yang ada didepannya, hanya ingin menjadi kuat. Ia selalu direndahkan. Diremehkan. Dihina. Tidak disukai oleh orang lain. Kecuali satu orang. Freya. Mata Aaron tergerak untuk menatap liontin permata biru yang tergeletak jauh darinya. Ia bekerja keras untuk mendapat permata itu karena Freya mengatakan betapa ia menyukai iris biru bening yang Aaron miliki. Untuk pertama kalinya ada yang memuji dirinya. Baginya, Freya adalah satu-satunya kebahagiaan. Tapi tetap saja, sulit bagi telinga dan hatinya untuk terus menutup diri dari celotehan orang-orang yang tidak suka padanya. Dan kebencian itupun tak mampu ia bendung.
Aaron. Ia sendirilah yang mengundang kebencian itu masuk kedalam dirinya. Menguasainya. Menghilangkan sisi kemanusiannya. Tidak bisa lagi melihat hitam dan putih. Yang ada hanya warna kebencian. Kebencian yang membuatnya bertujuan satu. Memusnahkan segalanya. Namun, bukan Freya. Tidak seharusnya Freya mati. Justru Freya-lah yang paling ingin ia lindungi. Aaron mengutuk dirinya berkali-kali. Terus bertanya retorik ‘Apa yang telah dirinya perbuat?’. Meski penyesalan itu tak akan membuat Freya hidup kembali. Freya yang sampai matipun terus mencintainya. Membunuh dirinya sendiripun mungkin takkan membuat Aaron kembali ke sisi Freya. Sebelum ia membuang jauh kebencian dalam hatinya.

Menunggu

20150320_144331

Ahahahah.. apa juga yang ditunggu? Tapi aku emang lagi nunggu sih. Nunggu kepastian(?). I am kinda looking for a job. It has been a month since I had had graduated from bachelor degree and yet still nothing to do #lol #sigh Jadi ya gini, jadi anak nongkrong hampir saben hari. Nongkrong di depan Pi-chan aka Lepita-san aka laptop aku. Mantengin hot news yang sebenernya nggak penting-penting banget. Tapi penting lah bagi aku, hahaha… Buka laptop means buka jendela dunia. (Sou ka -.-) Sambil nyari lowongan kerja, tak lupa juga buka sosmed dan Googling. Jangan lupa juga nyamperin Youtube-chan (XD). Jadi sambil nge-email apa aja yang bisa dikirimin email(?) eh.. maksudnya ke lowongan-lowongan yang lagi required and available, so pasti juga sambil nge-download video macem-macem. Mulai dari anime, konser, interview, film, drama, ya gitu-gituan deh. Gak penting banget kan?

Tapi bagiku itu semua part of life. Sejak kena fandom syndrome, aku hampir nggak pernah peka sama sekeliling. Nggak dalam artian negatif juga sih. Tapi nggak juga ngasih banyak positif. Intinya, semenjak aku mulai kenal dan memiliki idola (sampai ngaku-ngaku ngefans, padahal nggak pernah beli CD asli, nggak pernah dateng ke konser /plak/), hidup aku jauh lebih hidup dan berwarna. Meski kata orang ‘tiap hari kerjaan lu cuma ngimpi aja.’ Yaah… yang penting mah aku masih hidup lah ya wkwkwk… Tapi tuh rasanya tetep seneng punya hal lain yang bisa kamu jadiin motivasi selain ngadu dan bersandar ke Tuhan Yang Maha Esa. Ya, tiap orang beda sih ya.. Kalo aku sih gitu orangnya /oposeh/ 😀 Karena idola aku, aku jadi punya gambaran kayak apa lelaki idamanku nanti. Meski emang mustahil sih ya buat sesempurna idolaku itu XD. Tapi biar gitu tetep, idolaku ngasih aku harapan bahwa di dunia ini masih ada lelaki baik-baik yang pasti akan datang padamu jika kamunya juga baik-baik xixixixi. Dan meski mereka idola, hidup mereka tak sesempurna yang aku simpulkan. Iya sekarang, tapi perjuangannya dulu?

Misalnya, pas aku kenal.. err.. tahu soal Kim Jaejoong. Iya si bishie asal Korea Selatan, mantan personel TVXQ yang kemudian keluar membentuk trio JYJ dan sekarang lagi ngejalanin wajib militer. Kan dia ganteng ya, tapi juga beautiful. Nggak tau kenapa deh, aku selalu attracted sama laki-laki bishie aka pria cantik 😀 Yang ngefans sama dia pasti udah tahu banget asal muasal dan sejarah hidup dia. Dan tiap kali inget itu aku bersyukur, karena sesulit apapun hidup yang aku miliki, aku masih punya banyak pilihan untuk tidak menjalani yang terlalu sulit. Ketika tahu lebih banyak soal Jaejoong, aku bersyukur jika aku masih punya orang tua yang sangat peduli padaku. Jaejoong tahan minum, ya wajar kan itu emang udah budaya-nya orang sana. Jaejoong suka ngerokok.. yaaah, ayahku aja juga, meski aku-nya smoke-hater. Jadi aku selalu menjauh dari ayah tiap kali beliau mulai ngerokok, atau beliau yang aku suruh pindah tempat /plak//anak kurangajar/. Aku tetep ngefans lah, selama rokoknya Jaejoong gak mengganggu ku /ya iyalah, ketemu langsung aja kagak pernah/ -,- Jaejoong is really a hardworker. What he had and what he got now are all because of his own hardwork. I know it. And I wish him all the best, always.

Trus misalnya lagi…. Papa Hyde 🙂
Iya aku tahu aku manggil dia Papa, karena dia seumuran dengan ayah aku (my father’s January 15th, 1969, while Hyde’s January 29th, 1969) dan faktanya dia memang sudah menjadi ayah dari dua orang anak (tiga denk kalo sama aku). Dari SMP aku sudah dengerin musik Laruku. Emang dasarnya aku penikmat musik-musik Japun, apalagi yang Japanese Rock. Lagunya enak-enak, dan udah sering banget request ke radio. Cuman belum sempet nyari tahu kayak apa sih personel Laruku itu /masih gaptek gitu ceritanya/. Sekalinya udah bisa googling, aku cuma bisa ‘jawdropped’, cuma bisa mbathin ‘kakkoi’, atau ‘sugoii’ sambil muka melongo di depan kompi warnet >,< Itu sebenernya reaksi yang sama juga ketika aku nyari tahu soal member TVXQ. Jujur ya, TVXQ itu boyband pertama yang aku idolain banget banget banget. Aku cenderung lebih suka anak band, apalagi yang alirannya metal, punk, slow rock dan Japanese rock. Tapi entahlah, imej TVXQ aka DBSK aka Tohoshinki (ebusyeet banyak amir namanya.. haha) bikin aku suka. Dan sukanya aneh. Nggak ilang-ilang sukanya sampe sekarang. Udah wajar kali ya kalau di grup entah band ato boyband kita kan selalu punya bias ke salah satu member. Iya sih aku suka semuanya. Ya bayangin aja kalo nggak ada salah satu :-D. Tapi aku emang sejak awal udah pinpoint Papa Hyde karena dia Vocalist. Udah suka aja gitu sama suaranya yang unik (baru tahu dulu kalo keunikan suara Hyde itu karena falsetto nya). Dan meskipun udah ngeliat How do the Laruku member’s faces look like, aku tetep cinta Papa Hyde karena dia emang yang paling nyentrik, lucu, apabanget tapi talented. Papa itu buta warna tapi jago banget bikin haiku aka puisi sama ngegambar (dan yang pasti ngegubah lyric lagu). Papa emang shorty, tingginya nggak nyampe 160 malah. Tapi tetep cool cool aja gitu pas perform di panggung. Khas banget sama goyanganya yang ahemm #lol. Dan aku nggak mau muna, kalo aku emang ngagumin wajahnya Papa. Enak gitu diliatnya (resiko punya wajah ganteng). Kalo di TVXQ sih juga sama. Waktu masih berlima dulu aku juga suka semuanya. Suaranya enak-enak dan bagus-bagus semua sih. Coba dengerin pas mereka nyanyi Accapella. Trus pada jago ngedance. Wajahnya ganteng bingits, posturnya tinggi-tinggi dan bentuk tubuhnya sekseh gilaak. Sejak itu deh my innoccent mind mulai tainted. Setelah merhatiin wajah members TVXQ satu-satu secara seksama, baru deh aku nyadar kalu sukanya lebih ke Jaejoong. Apa ya… dia itu sebelas duabelas gitu sama Papa Hyde, cuman Jaejoong lebih tinggian aja (plus masih jomblo wkwkwk)… Jaejoong sama Papa itu sama-sama bishie di mata aku. Asli canteeek ngeets. Sampe aku ngerasa nggak percaya diri gitu jadi cewek.  Jaejoong sama Papa itu sama-sama bakat compose lagu dan ngebikin lyrics lagu. Mereka sama-sama punya banyak tattoo dan juga piercing di tubuh mereka. Mereka sama-sama pernah diterpa rumor sebagai gay (duhh.. kalo Jaejoong digosipin sama Yunho karena berawal dari hasrat fans kali ya, tapi kalo Papa Hyde itu emang gitu, suka bikin fanservice sendiri tanpa disuruh dan alhasil nggak cuma digosipin sama satu orang tapi banyak, kayak Sakura, GACKT sampe leader-nya sendiri aka si Oom Tetchan), sama-sama hobby masak (aseeek), sama-sama gaje dan apa banget, sama-sama kereeen yang pasti dan yang paling penting Jaejoong sama Papa itu sama-sama idolaku yang susah dilupain, I mean susah buat nggak ku idola in… haha.. Sekarang Papa nggak cuma aktif di Laruku tapi juga Vamps. Tapi aku lebih suka karakter ato imej Papa di Laruku sih, meski di Vamps he becomes a lot hotter and sexier *gulp*. Dan seberapapun kangennya aku sama TVXQ yang berlima, aku tetep akan dukung Jaejoong dimanapun ia berada. Dia masih tetep kocak dan apa banget tapi tetep kayak ada yang kurang.   Soal Laruku, waktu itu sih awalnya suka JROCKS, pas tahu kalo aliran musik mereka banyak di-influence sama L’Arc~en~Ciel (Laruku), aku jadi termotivasi buat ngesearch and ngunduh lagu-lagu Laruku yang ternyata….. beeehhhh! bejibunnn >O<
Sebenernya aku tipe-tipe yang akan (cukup) fanatik jika udah gandrungin sesuatu. Cuman mamski selalu nggak ngijinin. Alesannya sih nggak ada-ada pentingnya gitu. Iya sih, anak sekolah itu penting nya belajar dan sekolah yang bener biar jadi orang sukses dan berguna, bukannya ngabis-ngabisin duit buat beli fandom stuffs. Jangankan beli CD, majang poster aja kagak dibolehin, kecuali kalo posternya berisi rumus Fisika ato Matematika baru boleh kata mamski -.-

Ya udah deh, kan aku anak baik, jadi aku harus nurut dan bertekad nanti kalo udah kuliah ato kerja aku harus dapetin or at least ngelakuin apa yang aku mau. And well, nyatanya sampe sekarang.. aku masih nggak diijini pergi-pergi konser *hiks*. Aku tahu mamski sayang sama aku, aku kan anak cewek dan masih rentan ilangan. Tapi ya aku terus berharap mamski bisa percaya penuh sama aku dan ngijinin aku buat pergi nonton konser #amin

Intinya, aku harus bisa kerja mulai dari sekarang. Aku harus nabung duit sendiri dan belajar mandiri sendiri supaya ada alesan buat ngeyel kalo ntar nggak diijinin lagi buat pergi.. kkkkkkk….
Everyone, please wish me luck 🙂
Cause I know most of you are already luckier than me 😉
Before goes to military duty, Jaejoong also said to his fans for them to take care after themselves, to not worry too much about him since he will be just fine and doing well, and to have many many jobs so that their time will not be wasted for waiting him since he will definitely back in time.

That’s why, I wanna get a job too, and I have to. I hope I will by this year #Amin

Best regards,

This is me at my Graduation Day
This is me at my Graduation Day
This is me with Papski and Mamski (and Mingkki  nii-chan)
This is me with Papski and Mamski (and Mingkki nii-chan) XD
my entire family -- papa mama niichan xoxoxxoxoxox xxx
This is me with my Papa Hyde and Mama Hyde?? (but still with Mingkki nii-chan) #LOL
This is L'Arc~en~Ciel aka Laruku (Raruku en Shieru)
This is L’Arc~en~Ciel aka Laruku (Raruku an Shieru)
This is Tohoshinki aka TVXQ aka DBSK (OT5)
This is Tohoshinki aka TVXQ aka DBSK (OT5)
502986193293628286219743155
This is JYJ (now)
Jaejoong's tattoo
Jaejoong’s tattoo
Papa Hyde's tattoo
Papa Hyde’s tattoo
Hideto Takarai aka HYDE
Hideto Takarai aka HYDE
Kim Jaejoong aka JJ
Kim Jaejoong aka JJ
My beautiful Papa Hyde :-D
My beautiful Papa Hyde 😀
My pretty Jaejoong onii-chan :3
My pretty Jaejoong onii-chan :3
Jaejoong in military attire
Jaejoong in military attire
Ganbatte yo oniichan, atashi mo ganbaru kara :)
Ganbatte yo oniichan, atashi mo ganbaru kara 🙂
Papa Hyde
Papa Hyde
Papa and his majestic performance
Papa and his majestic performance
Can I just scream? Kyaaaaaaaa!
Can I just scream? Kyaaaaaaaa!
Hate the smoke, not the smokers... ehehehehe
Hate the smoke, not the smokers… ehehehehe
Like I said, hate the smoke, not the smokers :-D
Like I said, hate the smoke, not the smokers 😀
How can I resist this kind of charm? #Jaejoong
How can I resist this kind of charm? #Jaejoong
All I know is give up when it comes to irresistible charm
All I know is give up when it comes to irresistible charm
I wanna meet him, sincerely 😦
And this is how I’ve been daydreaming lately

[LYRICS] 東方神起 (Tohoshinki) – With Love [WITH – album] | ROMAJI

歌:東方神起

作詞:Shinjiroh Inoue

作曲:Shinjiroh Inoue

Song: Dong Bang Shin Ki

Lyrics: Shinjiroh Inoue

composer: Shinjiroh Inoue

ROMAJI

[Yunho]

kaze nagareru michi ni

nagai kage o nobashite iku

tadaima to iu koe de

nukumori ga afureru

[Changmin]

ashita ga kuru koto o

yakusoku shite ni wa kure yuku

nanimonai mainichi o

shiawase to yobitai

[Yunho]

ai dake de ima kimi o kuru mō

itsumodōri mata asagakurumade

[Yunho]

inochi no aru basho ni

kanarazu ai ga umarete iku

sorezore ga otagai ni

omoiyari motetanara

[Changmin]

ai koso ga ima hitsuyōdakara~

kokoro aruga mama-kimi ni a-ge-yō

Lalala…

[Changmin]

Kanashimi no nai asu o boku wa osorezu ni shinjiyou

hohoemi ga sekaijū o kazaru hi made

[Yunho]

ai dake de ima kimi o kuru mō

itsumodōri mata asagakurumade-

[Changmin]

ai koso ga ima hitsuyōdakara

kokoro aruga mama-kimi ni a-ge-yō

Lalala… Lalala…

[Changmin]

Itsumodōri no asagakurumade

[Yunho]

koko de oyasumi

[NEWS] 141103 SM’s shady dealings: Author confirms they forced JYJ out of new K-pop book

What do you think??
[Mark James Russel] “One of the most dramatic and famous events in K-pop history – the TVXQ! split.”
“I know that the whole TVXQ history is a very sensitive one, so I tried to write a very positive article on the band, which mentioned them starting as a five-member unit, then transitioning to a duo. I did not mention anything controversial about what happened and just looked at the positive….”

JYJ3

SM’s shady dealings: Author confirms they forced JYJ out of new K-pop book

 photo timthumb.jpg

The author of a recently released book on K-pop has revealed that SM Entertainment pressured his publisher to remove references to JYJ and the TVXQ! lawsuit.

This came to light when one of our favourite bloggers, Oegukeen (who has previously written a guest post for us on inter-cultural relationships) wrote an in-depth review of Mark James Russell’s book K-pop Now!: The Korean Music Revolution’.

Like we (and other reviewers) previously noted, she pointed out that there were odd inconsistencies in the book in the way TVXQ! and JYJ were covered. However unlike those other reviews, this time the author took the time to directly respond to the criticism in the comments of Oegukeen’s blog.

Russell confirmed, as we had suspected, that this effective deletion of JYJ from K-pop history was the result of interference…

View original post 1,157 more words

[Trans] 110125 Rahasia Diet Kim Jaejoong

Ahaaa… apa resep diet Jaejoong ini bakal berlaku untuk saya? *depressed*
Duh tukeran paha poo kita Jae, ahahahaha 😐

♕ DBSKCassIndo ♕

Pada tanggal 23 Januari, Kim Jaejoong melakukan wawancara khusus untuk memperingati hari ulang tahunnya yang ke-26 untuk para fans.

Kim Jaejoong yang memiliki bentuk paha sempurna dan bahkan lebih ramping daripada perempuan menceritakan semua fans tentang rahasia dietnya.

Dia berkata, “Sebenarnya aku makan banyak! Tapi aku melakukan diet dua hari sebelum kegiatan syutingku. Aku lebih ramping dibagian bawah pinggangku. Lalu aku mempertanyakan mengapa hal ini terjadi, kemungkinan besar alasannya adalah karena aku tidak sering bergerak.”

View original post 216 more words