Chronicle of Nine Tailed Beast

Pernahkah kau mendengar kisah tentang kaum van helsing dengan vampire? Ketika seorang pemburu diburu oleh pemburu lainnya yang merasa keberadaan mereka merugikan. Namun memburu seorang pemburu bukanlah hal mudah seperti memadamkan api dengan air. Tak jarang kau diharuskan menyalakan api baru yang lebih besar dan lebih kuat untuk menelan api merah yang menyala waspada. Angin. Elemen tersendiri yang keberadaanya mampu membuat elemen lainnya menjadi lebih kuat. Entah itu air. Entah itu api.
Ini bukan kisah perseturuan antara kaum van helsing dengan vampire. Namun ini tidak ada jauh bedanya dengan kisah mereka. Ketika muncul sebuah eksistensi terlarang yang tidak diharapkan. Sebuah eksistensi yang kemunculannya merupakan pertanda sebuah bencana.
Freya Arlmore. Gadis belia berusia enambelas tahun yang mau tidak mau harus sudah diperkenalkan dengan suatu hal tak lazim pada anak gadis seusianya. Apa yang diajarkannya tidak boleh sampai diketahui orang lain. Hanya ia dan keluarganya. Setiap malam Freya harus melatih dirinya. Mengasah kemampuan yang diwariskan melalui darah keturunan yang mengalir dalam dirinya. Ia harus siap menghadapi sesuatu yang ia sendiri masih belum tahu pasti ada tidaknya. Tapi Freya bukanlah tipe pembantah. Ia akan menurut jika itu bisa memuaskan keinginan orangtuanya.
Hanya, hal yang diantisipasinya itu sama sekali bukan yang seperti ia duga. Bahkan ia tak mengharapkan hal itu terjadi. Freya berharap jika ia hanya sedang bermimpi buruk. Ia tak pernah tahu. Ia sama sekali tak pernah mengira jika orang yang paling dekat dengannya justru menjadi objek yang harus ia hilangkan.
Freya tahu ia takkan pernah sanggup melakukan tugasnya. Tapi ia harus. Ia tidak bisa memutar balik jalan kehidupannya. Bukan soal takdir. Tapi soal pilihan. Freya tidak pernah percaya akan ketetapan takdir. Ia justru yakin selama masa depan masih ada selangkah didepannya apapun bisa ia lakukan untuk menulis takdirnya sendiri. Tapi, kini ia hanya punya satu pilihan. Membunuh. Atau terbunuh.
Keluarga Arlmore dikenal dengan ciri unik biologis mereka yang memiliki warna rambut merah terang. Dari luar, mungkin banyak orang mengira jika keluarga Arlmore mungkin suka mewarnai rambut mereka alias menyemirnya. Padahal itu asli. Genetik itu sudah warisan turun-temurun dari para leluhur keluarga Arlmore. Dan selain rambut masih ada hal lain yang juga diwariskan turun-temurun dalam keluarga yang cukup terpandang itu. Namun tentu saja tidak diketahui oleh orang manapun.
Mata pemilik darah keturunan Arlmore memiliki kemampuan khusus yang tidak akan ditemukan pada mata manusia biasa. Iris mereka mampu berubah warna sesuai dengan energi dalam tubuh yang mereka keluarkan. Itulah yang setiap malam Freya pelajari. Ia mengasah tubuhnya untuk mampu memancing keluar energi dalam miliknya yang perlahan akan merubah warna iris matanya secara bertahap. Normalnya, seperti orang lainnya, iris mata Freya aka berwarna cokelar dengan pupil hitam ditengahnya. Namun ketika energinya menguar keluar iris itu akan berubah menjadi merah. Jika energi tersebut digunakan untuk tujuan tertentu, maka warna yang dihasilkan irisnya pun akan menjadi berbeda. Iris biru biasanya akan menghipnotis seseorang. Iris kuning untuk mengunci pergerakan tubuh seseorang hanya dengan menatap matanya secara langsung. Iris ungu pucat untuk menajamkan penglihatannya hingga jarak ribuan meter bahkan kilometer. Jika dari ungu pucat berubah menjadi ungu, pemilik darah Arlmore akan mampu melihat secara leluasa bahkan dalam keadaan gelap gulita sekalipun. Sedangkan iris merah, akan membuat mereka bergerak lebih gesit dan jika sudah menjadi keemasan, kekuatan mereka sudah nyaris tidak mungkin dikalahkan manusia manapun, kecuali…. Kecuali jika lawan mereka bukanlah manusia.
Iris hijau menandakan Freya akan lebih mudah menyatu dengan alam dan menyerap energi daripadanya. Dengan itu pula ia memanfaatkan teknik berbasis elemen angin untuk membantunya melawan musuh. Freya memilih teknik berbasis elemen angin sekalipun tahu jika lawannya adalah pengguna teknik berbasis api. Itu karena ia tidak ingin memadamkan lawannya. Freya justru ingin membebaskan lawannya.
Freya bisa dengan leluasa memunculkan dua buah kipas kapanpun ia mau. Dengan kipas-kipas itulah ia menarik energi angin dari alam. Pertarungannya malam ini tidak akan mudah. Ia bahkan sudah siap mati. Tapi sebelum itu, ia harus mencapai apa yang menjadi tujuannya. Berbagai makhluk menyeramkan dan brutal, yang tidak akan mampu dideteksi indera manusia biasa, berdatangan menyerangnya. Rupanya benar-benar tidak mudah untuk sekedar mendekati musuh utamanya. Musuhnya itu kini mungkin sedang bersantai menunggunya terluka parah. Tapi Freya takkan membiarkan apapun menghalangi misinya.
Memang malam yang panjang. Freya bahkan menolak untuk menangisi seluruh keluarganya yang entah bagaimana bisa diperdaya dan akhirnya dibunuh oleh sosok yang kini menyeringai angkuh dihadapannya. Dendam? Tentu saja. Tapi bukan karena ingin membalas dendam ia berdiri di tempat itu. Sosok yang muncul dari balik kegelapan itu perlahan menampakkan dirinya yang berubah ke wujud aslinya. Seekor monster rubah raksasa dengan sembilan ekor yang tiap ekornya mendengungkan terompet kematian. Monster siluman yang harusnya hanya ada dalam legenda atau mitos. Monster siluman yang seharusnya tidak terlahir dimuka bumi ini karena mengancam nyawa jutaan manusia.
Freya memusatkan seluruh aliran energi dalam tubuhnya hingga irisnya berwarna keemasan. Ia akui siluman rubah berekor sembilan memang kuat. Namun ia harus mengakhiri semua malam itu juga. Freya menggunakan teknik bayangan yang membuat kipasnya membelah menjadi empat yang menancap ke empat titik arah mengitari sosok raksasa sang rubah yang warna iris ruby-nya memancarkan kebencian yang amat mendalam. Rubah berekor sembilan memang monster siluman yang tak mengenal ampun dan belas kasih. Ia bahkan mampu membuat bumi ini menemui kiamatnya. Ia membenci eksistensi manusia. Ia membenci semuanya. Bahkan bisa dikatakan, ia adalah metafora dari kebencian itu sendiri. Bukan nafsu, amarah atau dendam. Hanya kebencian. Kebencian yang mampu menggerogoti hati manusia hingga hilang akar kendalinya.
Rubah raksasa itu menatap Freya nyalang. Amarahnya tersurat begitu jelas di matanya yang kian memerah. Geramannya mampu membuat seluruh pohon di hutan itu roboh dan kehilangan sari kehidupannya. Sang rubah membuka mulutnya untuk menarik energi besar yang dimilikinya membentuk sesuatu yang dipastikan bisa melenyapkan sebuah pulau. Rubah itu marah karena teknik bayangan kipas Freya ternyata mengunci pergerakan keempat kakinya. Dan Freya, ia tengah menyiapkan tahap selanjutnya yang juga sekaligus tahap terakhir. Ia mengeluarkan sebuah laras pedang yang tersembunyi dalam dadanya. Dengan tatapan tanpa gentar ia melayangkan pedang tersebut kearah sang rubah yang disaat bersamaan mengarahkan bola energi sangat besar kearahnya.
Sejarah adalah sebuah kebohongan. Kebohongan yang dianggap realita bagi siapa saja yang memenangkan pertarungan dan bertahan hidup. Orang yang mempelajari sejarah tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada waktu dan tempat yang bukan zaman mereka. Mereka hanya berasumsi dan berspekulasi dari bukti-bukti yang mereka temukan. Bukti-bukti yang terlihat otentik namun nyatanya bisu. Menganggap kepercayaan benar-benar sebuah realita yang terjadi di masa lampau. Menjadikannya sebuah teori. Teori yang juga akhirnya dianut banyak orang. Miris. Tentu saja akan menyedihkan bagi pihak yang kalah dan harus mati. Mereka tidak akan mampu menceritakan sejarah dari sisi mereka. Karena mereka kalah.
Pedang milik Freya itu akhirnya mampu menembus pusat kehidupan sang rubah. Wujudnya menyusut. Energinya kian memudar. Apa artinya Freya berhasil menjadi pemenang? Tentu tidak. Selamanya keberadaan siluman rubah berekor sembilan itu hanya menjadi sebuah mitos. Begitu juga dengan Arlmore. Karena disaat yang sama fisik Freya pun hancur dan entah kenapa hanya menyisakan sebuah kalung berliontin permata biru yang selama ini setia melingkar di lehernya. Freya gagal menjadi pemenang namun ia berhasil mencapai tujuannya. Energi rubah itu tidak hilang. Hanya terkunci. Terkunci pada sosok yang tengah terpaku melihat permata biru itu terpelanting keatas yang kemudian jatuh ketanah berabu. Sosok itu tidak menghiraukan rasa sakit akibat pedang yang menghujam dada kirinya. Pedang itu sama sekali tidak menyakitinya. Bahkan sama sekali tidak menyentuh jantungnya. Karena pedang itu berubah menjadi tattoo segel yang akan selamanya mengunci energi sang rubah dalam dirinya. Yang akan turut mati jika suatu saat dirinya mati. Saat ini sosok yang perlahan kembali ke wujud manusianya itu tengah berjuang untuk mengatakan sebuah nama. Fre-ya.
Ia tidak membayangkan jika akan membunuh orang terkasihnya ditangannya sendiri. Ia kehilangan akal sehatnya. Hanya karena ambisi sesaat. Aaron. Nama pemuda yang duduk terkulai memandang hampa atas apa yang ada didepannya, hanya ingin menjadi kuat. Ia selalu direndahkan. Diremehkan. Dihina. Tidak disukai oleh orang lain. Kecuali satu orang. Freya. Mata Aaron tergerak untuk menatap liontin permata biru yang tergeletak jauh darinya. Ia bekerja keras untuk mendapat permata itu karena Freya mengatakan betapa ia menyukai iris biru bening yang Aaron miliki. Untuk pertama kalinya ada yang memuji dirinya. Baginya, Freya adalah satu-satunya kebahagiaan. Tapi tetap saja, sulit bagi telinga dan hatinya untuk terus menutup diri dari celotehan orang-orang yang tidak suka padanya. Dan kebencian itupun tak mampu ia bendung.
Aaron. Ia sendirilah yang mengundang kebencian itu masuk kedalam dirinya. Menguasainya. Menghilangkan sisi kemanusiannya. Tidak bisa lagi melihat hitam dan putih. Yang ada hanya warna kebencian. Kebencian yang membuatnya bertujuan satu. Memusnahkan segalanya. Namun, bukan Freya. Tidak seharusnya Freya mati. Justru Freya-lah yang paling ingin ia lindungi. Aaron mengutuk dirinya berkali-kali. Terus bertanya retorik ‘Apa yang telah dirinya perbuat?’. Meski penyesalan itu tak akan membuat Freya hidup kembali. Freya yang sampai matipun terus mencintainya. Membunuh dirinya sendiripun mungkin takkan membuat Aaron kembali ke sisi Freya. Sebelum ia membuang jauh kebencian dalam hatinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s