LOVE NOTE (Catatan Cinta)

Apa ini? Buku bersampul hitam yang tergeletak begitu saja di samping taman sekolah. Aku kesini karena anak-anak yang sedang main futsal itu dengan seenaknya menyuruhku, yang kebetulan lewat, untuk mengambil bola mereka. Kuambil bola tak seberapa besar itu, dan saat itulah pandanganku bersitatap dengan sebentuk buku unik. Entah unik entah aneh. Astaga, jangan bilang ada yang sedang mengerjaiku. Aku mungkin bodoh dan mudah dibodohi, tapi aku tak sebodoh itu untuk mempercayai keanehan buku yang tak sengaja kutemukan itu. Meski bukan pecinta anime, aku pernah menonton Death Note. Buku yang kutemukan ini persis sekali modelnya dengan Death Note, hanya saja ia diberi judul Love Note.

Aku tertawa dalam hati. Ingin kuambil buku itu lalu kubakar atau kulempar ketempat sampah biar tau rasa orang yang bisa-bisanya memiliki ide tidak elite seperti ini untuk mengerjai orang. Tapi, buku itu masih kosong. Entah mengapa, aku merasa sayang saja kalau buku itu tidak ku manfaatkan. Kupikir buku itu lumayan untuk corat-coret dikelas nanti, atau bisa kujadikan buku catatan tambahan. Apalagi nanti setelah istirahat adalah waktunya pelajaran Matematika. Shit.

Sambil menyangga wajah, aku terus memandangi papan tulis. Meski pak Kuroda menjelaskan dengan telaten tetap saja tak ada yang bisa ku mengerti tentang bagaimana menyelesaikan rumus fungsi itu. Aku lebih suka pelajaran bahasa Inggris atau bahasa Jepang atau bahasa Perancis sekalian. Karena hanya pada pelajaran itu aku tidak dituntut berpikir keras. Aku ini sama sekali tidak berbakat di bidang apapun. Aku juga tidak pintar. Seringnya, aku masuk dalam 20 besar dari jumlah 30 anak per kelas. Aku juga tidak suka olahraga. Satu-satunya cabang atletik yang ku kuasai hanya berlari, itupun kalau aku sedang mood untuk berkompetisi. Aku tidak bisa berenang, aku tidak bisa main basket, aku juga tidak bisa bela diri. Pokoknya tiap pelajaran olahraga aku cukup masuk, absen dan melakukan apa yang guru olahragaku perintahkan.

 

Setelah bermenit-menit aku nyaris terantuk karena mengantuk, sebuah ide muncul dikepalaku. Aku meraba selorokan mejaku untuk mengambil buku bersampul hitam yang kutemukan saat jam istirahat tadi. Ya ampun, benar-benar kurang kerjaan orang yang mau membuat buku ini. Dijual tidak, dibuang iya. Atau mungkin terjatuh? Yang pasti aku tidak akan terperdaya. Apanya yang Love Note? Kalau Death Note mampu membuat orang mati hanya dengan menuliskan namanya diatas kertas Death Note, apa Love Note mampu membuat orang jatuh cinta hanya dengan menulis namanya dalam buku aneh ini?
Innerku menggeleng keras. Absurd.

Begitu kubuka sekali lagi, kali ini lebih terperinci, ternyata tidak ada aturan-aturan seperti yang tertera pada Death Note. Isi buku ini benar-benar kosong kecuali laman depan sampul yang bertuliskan Love Note. Lagipula dari namanya, buku ini tidak akan membunuh orang, tapi hanya akan membuat orang jatuh cinta, begitu kan? Ewh. Jangan bilang seandainya buku ini nyata fungsinya, maka sekarang ada dewa atau dewi cinta pemilik buku yang sedang mengawasiku. Please, aku tidak ingin berakhir tragis seperti Light Yagami yang merupakan pemeran utama dalam serial Death Note.

Lagi-lagi innerku terkikik menolak keras-keras asumsiku barusan. Sudahlah, lagipula siapa yang ingin kubuat saling jatuh cinta? Kalau jadi mak comblang dibayar, mungkin aku akan menggunakan buku ini meski itu mustahil.

 

“-ta! Shinta!”

 

Aku terperanjat. Ya ampun, sejak kapan pak Kuroda berdiri didekat mejaku? Jangan bilang belia tadi memanggil-manggilku tapi aku tak mendengarnya. I’m so dead.

 

“Jadi kamu dari tadi tidak memperhatikan pelajaran saya?”

 

“Eh..mm..anu.. eh.. maksudnya.. saya memperhatikan kok pak, cuma kepala saya agak pusing, maaf pak.”

 

Bagus. Entah darimana alasan konyol itu berasal. Kalau pak Kuroda nggak percaya, aku harus siap dihukum. Mending kalau hukumannya lari keliling lapangan, dulu aku pernah disuruh mengerjakan seratus soal logaritma karena lupa mengerjakan PR dan soal itu harus diserahkan keesokan harinya. Semoga kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Amin. (-/|\-)

 

Kulihat pak Kuroda membenahi letak kacamatanya. Sementara jantungku berdegub-degub, kalau kalau aktingku tadi gagal.

 

“Yasudah, ke UKS sana. Harusnya kalau merasa tak enak badan kamu minta izin. Mengerti?”

 

“I-Iya pak, permisi.”

 

Demi Zeus, aku tak percaya kalau seorang pak Kuroda bakal menelan mentah-mentah kebohonganku. Tapi biarlah, keuntungannya aku bisa sejenak terbebas dari Matematika yang terasa membelengguku selama hampir 2 jam tersebut. Awalnya aku berjalan menuju UKS, tapi niatku batal, selain karena aku sebenarnya baik-baik saja. Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dari ruang music. Sepertinya ada yang sedang berlatih band.

Ruang music di sekolahku sedikit lebih luas dibandingkan ruang kelas biasa. Sengaja didesain transparan agar suara riuh yang dihasilkan lebih membahana. Tidak akan mengganggu pelajaran, karena sebentar lagi juga jam pulang. Makanya tadi aku sekalian membawa tas. Siswa dan siswi yang mengambil ekstrakurikuler music tidak boleh bermain saat jam pelajaran. Ya iyalah, kalau dibolehin sama saja mengizinkan mereka untuk bolos dengan bebas. Sekolahku memang bukan sekolah favorit, karena secara akademik sekolah ini tidak terlalu berprestasi. Tapi dalam non-akademik, nama sekolah kami sudah sangat dikenal. Misalnya langganan juara tiga besar dalam pekan olahraga nasional atau kompetisi band.

Aku sendiri tak tahu kenapa aku masuk sekolah ini. Aku sama sekali tidak memiliki bakat, tapi sekolah ini menerima siapa saja yang nilai akdemis-nya tidak baik namun mempunyai bakat lain yang menonjol. Saat pendaftaran dulu, aku hanya menyanyikan sebuah lagu musical dari drama musical Dracula, Loving You Keeps Me Alive. Aku tidak tahu apakah suaraku menyakiti telinga para guru dan kepala sekolah saat itu atau tidak, tapi aku lega aku diterima. Karena setidaknya disini, aku tidak dituntut untuk mendapat nilai akademis tinggi untuk bisa lulus. Selain itu fee sekolah ini juga terbilang terjangkau karena sekolah ini banyak mendapat sumbangan baik dari pemerintah maupun donatur yang kebanyakan adalah seniman atau olahragawan. Hanya saja, mayoritas murid disini adalah laki-laki. Tentu saja ada murid perempuan tapi sedikit, itupun tak semuanya ramah padaku. Aku tidak tahu, mungkin karena dari luar aku seperti tipe orang yang sulit didekati. Padahal aslinya aku bisa saja ceriwis. Tapi aku tak ambil pusing, selama mereka menganggapku teman, maka aku juga akan menganggap mereka teman. Selama mereka tak menghindariku, aku tak akan menghindari mereka. Meski kadang, aku ingin memiliki satu saja sahabat di sekolah ini.

 

Just hold your breath

Because tonight will be the night that I will far you

Over again

Don’t make me change my mind

 

Aku mengetuk-ngetukkan kaki ke tanah berumput sambil menikmati alunan music dari ruang music. Selera mereka tidak buruk. Aku suka lagu itu.

 

Aku…

Aku juga suka dengan orang yang menyanyikan lagu itu…

Saat ini….

 

Tanganku masih menggenggam buku bersampul hitam aneh. Mendadak pikiran-pikiran aneh menggerayangiku. Meski sudah kucoba kutepis karena aku yakin sekali hal-hal konyol seperti apa yang ada di anime, tentu tidak akan terjadi di dunia nyata. Hal semacam itu hanya berlaku dan terjadi dalam dunia fiksi.

Kalau begitu, biar ini terjadi dalam dunia fiksiku.

Lagipula aku sendirian.

Kalau terjadi apa-apa, tidak akan ada yang tahu.

Semua siswa sudah pulang kecuali mereka yang ada jadwal ekstrakurikuler hari ini.

Aku disini hanya… hanya ingin mencoba hal kecil.

Ya. Hal kecil, tentu saja.

Hanya menulis.

Sebuah nama.

 

 

Love Note

“If the user of this book does not describe clearly how the target will fall in love and with whom, the target will simply fall in love with the user.”

 

Aku menatap tak percaya dengan apa yang kutulis. Aku nyaris tak percaya pada diriku sendiri. Melakukan hal selicik ini, meski tak terbukti kebenaranya, tetap saja menandakan bahwa aku berusaha mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas dan memaksa. Tidak dengan berusaha dan menerima apa adanya. Astaga, bisa-bisa aku bernasib tragis seperti Light Yagami. Meski tak terjadi apa-apa setelahnya, tetap saja jika ada orang melihat apa yang kutulis dibuku ini pasti mereka akan menyebar rumor. Aku tidak peduli, tapi orang itu.. aku peduli pada orang itu dan aku tidak mau ia mendapat masalah karena aku. Apalagi karena hal sepele seperti ini.

Kugunakan karet penghapus, untungnya aku tidak menggunakan ballpoint saat menulis tadi.

 

“Hei!”

 

Tubuhku kaku. Usahaku untuk menghapus tulisan juga terhenti. Aku yakin ada yang menyeruku. Suara tadi menyeru kearahku kan?

Oh Tuhan!

Dengan cepat kututup buku bersampul hitam yang hampir saja menghancurkan reputasiku.

Didepanku telah berdiri lelaki yang tadi kulihat tengah mengcover lagu Secondhand Serenade dengan kerennya.

 

“Yu…i?” beoku. Aku masih tak yakin jika yang didepanku ini benar-benar siswa yang kukagumi diam-diam selama hampir dua tahun aku bersekolah disini. Tidak! Jangan bilang kalau ini adalah efek dari apa yang kutulis tadi!

 

“Dari tadi aku melihatmu duduk disini. Aku tidak tau apa yang kau tulis sampai tidak sadar kalau gerimis begini. Sebaiknya kau berteduh, ke ruang music juga tidak apa-apa.”

 

Ah.. tentu saja. Aku terlalu berharap untuk sesuatu yang berlebihan. Dia hanya mengkhawatirkanku. Sekalipun ia tidak begitu mengenalku. Ya Tuhan, kenapa juga aku nyaris percaya kalau Love Note sialan itu akan berfungsi. Kurasa aku mulai sadar kenapa aku sering dibilang bodoh.

 

Diluar dugaan, hujan deras semakin mengguyur. Padahal tadi cerah, sekarang sudah gelap dan dingin. Kubuka telepon genggam flip-ku untuk membaca pesan singkat dari ibuku yang cemas karena aku belum pulang sementara diluar sedang hujan. Ibuku tau aku tidak ikut ekstrakuler apapun jadi wajar kalau ia cemas jam segini aku belum tiba dirumah. Sudah hampir jam empat sore. Bus selanjutnya baru akan datang setengah lima. Sepertinya aku harus menunggu lebih lama.

 

“Kau mau kopi susu, ini hangat?”

 

Aku nggak perlu sok-sokan jaga imej. Makanya aku terima tawaran dari Yui. Begitu mengikutinya ke ruang music, aku langsung berkenalan dengan teman-temannya yang juga member dari band yang digawanginya. Aku mulai menghafal satu persatu, yang berkacamata tapi tetap terlihat kece itu Saga, yang berambut pirang dan memakai piercing adalah Hiro, yang berambut panjang dan dikuncir adalah Mako, dan yang terakhir, yang paling sering mengajakku mengobrol setelah Yui, Shun. Itu adalah nama panggilan sekaligus nama beken masing-masing.

Aku senang mereka menerimaku. Setidaknya, menerima kehadiranku yang tiba-tiba seperti ini. Padahal aku sudah mengantisipasi akan suasana awkward.

 

“Shin-chan, aku masih heran kenapa kamu dinamai seperti anak laki-laki?” Tanya Shun sambil menyetem gitarnya.

Untung kopi susunya sudah kuhabiskan, aku bisa-bisa tersedak mendengar panggilan baru darinya yang tidak lazim itu.

 

“Jangan menyingkat namaku, aku jadi terdengar seperti tokoh anime cilik yang tidak pernah dewasa itu.”

 

“Hei hei, semua yang ada disini punya nama panggilan. Kaupun juga harus punya. Nama panggilan adalah nama singkat, jadi sesuai kan dengan namamu Shin-chan~”

 

“Tapi itu jelek, udahlah panggil Shinta aja, itu lebih baik.”

 

“Oke oke, tapi jawab dulu pertanyaanku tadi, apa ibumu berharap dirimu seorang laki-laki, atau bagaimana?”

 

“Bukan. Orang tuaku, terutama ibu, ingin menamai anak-anaknya dengan nama tokoh-tokoh dari mitologi India. Hanya saja selalu ada kesalahan saat mengeja ketika mendaftarkan akta kelahiran. Misalnya kakakku, yang niatnya ingin dinamai Rama, tapi akhirnya jadi Ranma. Lalu diriku, ibu ingin menamaiku Sita,tapi malah jadi Shinta. Begitulah.”

 

“Kalau tidak salah, Rama dan Sita adalah sepasang kekasih, bukan?” kali ini Mako menyela.

 

“Iya, terus?”

 

“Aneh saja kalau adik dan kakak dinamai dari nama sepasang kekasih, kalian tidak incest kan?”

 

Aku terbengong.

 

Incest?

 

Dengan kakakku?

 

Mending aku jomblo sampai mati lalu di alam bawah bertemu dengn Hades dan menjadi istrinya (Lho?)

 

“Ya nggak lah, aku juga nggak tau, mungkin keduanya hanya karakter favorit ibu dan kebetulan anak-anaknya laki-laki dan perempuan.”

 

“Heeh, lalu, apa kau bisa main music?”

 

Aku menggeleng.

 

“Kalau begitu kau pasti seorang atlit.”

 

“Bukan.”

 

“Hah? Tapi kau ada di sekolah ini karena kau punya bakat tertentu kan?”

 

“Entahlah, asal kalian tahu aku tidak memiliki bakat apapun. Dulu saat tes masuk aku hanya menyanyikan lagu musical dan beruntungnya aku diterima.”

 

Hening.

 

Sudah kuduga memang akan awkward.

 

Apa yang kuharapkan?

Aku bahkan tidak berandai bisa dekat dengan kelompok seperti mereka.

Aku yang menyendiri, aku yang susah bersosialisasi, aku yang pendiam, aku….

 

“Eh? Kalian mau latihan lagi? Kan hujan masih…. ”

 

Hujan tak lagi sederas sebelumnya.

 

“Coba nyanyikan!”

 

“Hah?”

 

“Lagu musical yang kau nyanyikan saat tes masuk. Akan kami buat versi band.”

 

Dan mau tidak mau akupun mulai bernyanyi.

 

Loving you keeps me alive, think again before you leave me

His love cannot be as true as the love I offer you

You’re wasting time pretending you belong to him

Come to your senses

Loving you keeps me alive; I’ll be in your heart forever

And you’ll be part of me from now till eternity

You’ve talked yourself into believing he’s the one

Such wild pretenses

 

 

 

The first time I set eyes on you

I knew I’d never be the same

I never knew I’d get such pleasure

Whispering your name

If loving you keeps me alive

Then how can leaving me be right?

Turn back and let me love you

Stay with me and let us dance into the night

 

You are the one, the only one

To make me see empty life I lead

You are the love

The only love I’ll ever need

 

The first time I set eyes on you

I knew I’d never be the same

I never knew I’d get such pleasure

Whispering your name

If loving you keeps me alive

Then how can leaving me be right?

Turn back and let me love you

Stay with me and let us dance into the night

 

###

“Tidak kusangka kau sekarang lebih banyak bergaul dengan anak laki-laki.”

 

“Mereka anggota band sekolah kak, salah satu band sekolah, tadi saat hujan aku numpang berteduh di ruang music.”

“Tumben menjemputku, padahal aku bisa pulang sendiri.”

 

“Sapa juga yang niat jemput kamu, kalau bukan karena ibu yang maksa-maksa, padahal aku mau nonton sama Reina.”

 

Kalau orang yang sedang menyetir mobil ini bukan kakakku sendiri, sudah aku pites pites dia. Aku selalu mendengar dari teman-temanku jika kakak-kakak mereka selalu baik, perhatian dan memanjakan mereka. Setiap mereka cerita begitu, aku hanya mendengus. Kakakku?

Entah dimatanya aku ini apa, kadang aku merasa dia menyayangiku tapi sering aku merasa dia hanyalah setan jahil yang bahkan penjaga neraka tidak kuat menghadapi keusilannya.

Ya Tuhan, tau gini mending aku jadi anak tunggal aja.

Jangan denk, nggak enak jadi anak tunggal. Pasti di tuntut banyak. Di keluargaku, kakakkulah yang pastinya dituntut macam-macam. Sampai ia stress dan menumpahkannya padaku. Sialan!

Pernan dia gagal masuk Univeristas Todai, karena sebenarnya kakak lebih ingin masuk institute. Jadinya ayah marah, meski dia bilang nggak ambil pusing, nyatanya ia masuk ke kamarku, ngutak-atik komputerku sampai rusak.

Benar. Aku tau ia tertarik dengan IT dan elektro, tapi bukan berarti komputerku jadi kelinci percobaan kan?

Parahnya, ayah tidak langsung mengganti rugi, baru setelah aku naik ke kelas dua kemarin ayah membelikanku laptop.

Shit banget memang.

 

Tut tut

 

Aku meraba sakuku yang bergetar. Ada pesan singkat baru masuk.

 

Lain kali kita nyanyi bareng kaya tadi, ok?

 

Yuichi N.

 

Tuhan, maafkan aku! Tapi bolehkah aku sebentar saja merasa senang?

Mungkin Love Note itu tidak berfungsi apa-apa, tapi kuakui karena buku bersampul aneh itu aku jadi tidak sengaja dekat dengan Yui.

Aku juga dekat dengan teman-temannya meski baru hari ini aku bertemu dan berkenalan dengan mereka secara…. resmi.

Karena waktu masa orientasi dulu, aku sama sekali tidak berusaha berkenalan dengan semua sesame murid baru. Aku hanya berusaha menghafal beberapa teman sekelasku, itupun yang perempuan saja. Bukannya aku tak suka dengan anak laki-laki, aku hanya merasa terlalu canggung untuk berdekatan dengan mereka. Meski sebuah pengecualian untuk hari ini.

Baiklah, aku biarkan saja. Aku memutuskan, aku tidak akan menghapus apa yang kutulis tadi. Apapun yang terjadi nanti, biarkan itu menjadi kenangan yang kukenang sendiri.

 

Sampai dirumah aku langsung kekamar yang ada di lantai dua. Ibuku pasti mengerti. Hari sudah mulai gelap. Aku harus secepatnya mandi sebelum membantu ibu menyiapkan makan malam.

Jangan berpikir macam-macam.

Biasanya aku tidak begitu. Anggap saja hari ini hari istimewa.

Aku ini anak yang super malas, meski aku seorang perempuan.

Aku baru mengerjakan sesuatu ketika aku disuruh.

Aku lebih suka bersantai, melakukan hal tidak perlu, seperti menonton anime atau menonton drama musical.

Aku sedikit tidak menggubris ketika ayah lagi-lagi mulai menceramahiku, menyuruhku untuk mulai memikirkan cita-citaku. Memikirkan masa depan dan blah blah blah.

Cita-cita ya?

Aku tahu itu hal yang sangat penting dan memang sebaiknya dipikirkan sedini mungkin. Biar terarah. Tapi aku masih tidak tahu. Aku tidak tahu aku ingin menjadi apa di masa depan. Aku masih belum tahu ingin melakukan apa. Aku tidak memiliki bakat apapun dan nyaris tidak memiliki ketertarikan terhadap sesuatu.

Mmm…kecuali ketertarikan terhadap seseorang sih. Uwh~

Meski ayah tidak terang-terangan bilang, aku bisa menangkap jika ia juga ingin agar aku masuk dan diterima di Universitas Todai.

Astaga, padahal aku masih kelas dua. Ujian masuk Universitas juga masih setahun lagi.

Kakak sih enak, dari awal sudah memantapkan hati menjadi ahli IT, jadi ketika ia tidak masuk di Todai ia masih bisa membuktikan pada ayah jika ia berkualifikasi di tempat lain. Di institute yang sekarang ini ia ikuti.

Sedangkan aku?

Entahlah, kali ini aku menikmati saja masakanku—–eh—masakan ibuku maksudnya. Tinggal mengangguk-angguk saja kalau ayah menegaskan sesuatu nanti ceramahnya juga selesai sendiri.

 

Sekarang aku mulai lebih tertarik dengan telepon selular ku sendiri. Tentu saja. Biasanya ponselku sepi, hanya berisi pesan singkat atau riwayat panggilan dari itu-itu saja. Sekarang pun juga sepi, tapi paling tidak, di list kontakku sudah bertambah nomor-nomor yang membuatku tertarik mengamati ponselku lekat-lekat. Dan aku kembali teringat akan buku bersampul hitam.

 

Meski kutahu buku itu tidak berfungsi, entah kenapa aku tetap ingin coba-coba dan bermain-main. Apalagi penyulut niat jahilku itu adalah kak Ranma. Kalau ada seseorang disini, ia pasti bisa melihatku tengah menyeringai licik.

Astaga!

Padahal buku ini tidak berfungsi, dan aku masih berpikir untuk balas mengerjai kakakku?

Kurasa…. Aku memang bodoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s