The World You Gave Me, Itachi

This story is pure fiction. Original characters belong to ©Masashi Kishimoto-sensei. The rest is simply alive within my fantasy only, hehe 

Summary: Truth behind Itachi. What if Itachi had actually met one girl and had had something with her. It’s when the truth reveals that Sasuke is no longer the only one obliged to revive Uchiha clan XD (-_-)

Note: Saya hanya seorang penggemar Uchiha Itachi yang sangat tidak rela atas kematian Itachi *hiks
Cerita ini saya tulis jauh sebelum Itachi Shinden dirilis. Dan begitu tahu kalau sebenarnya Itachi pernah punya love interest (yah meskipun sad ending and tragic) saya luar bisa senang 😀
Tapi tetep, saya juga ingin liat Itachi berkeluarga dan bukan cuma dalam Tsukuyomi 😥 ;’( disamping memuaskan rasa penasaran saya seandainya Uchiha-Hyuga bersatu(?) xD dan entah mengapa, cerita ini feel-nya nggak jauh beda dari Itachi Shinden -__-
Cerita ini saya buat dengan mengarah pada alur asli Naruto, tetapi yah tetap dengan bumbu-bumbu imajinasi saya sendiri. Settingnya merupakan kelanjutan dari cerita aslinya. Seandainya Kishie-sensei tidak membuat karakter Itachi mati, saya berharap ia akan menemukan kebahagian tanpa perlu menebus dosa-dosanya (lagian kan misinya itu juga demi Konoha TT___TT)
Please kindly press ‘BACK’ if you dislike this story. Feel free to read and review (if you please tho)

The world now is in peace. Of course the ninjas are still alive. They had invented advanced technology, too. The will of fire is still blazing and igniting in each living, from the elders to the youngster, new generation.
One fine day, Hyuuga Hinata, The Seventh Hokage’s wife, wants to visit a village which is not a shinobi village. Yes, since long time ago, there are actually a few villages that did not have ninja force. Those villages simply run for trading. And when a threat seems approaching, the villagers simply ask for help from the shinobi village, such as the Hidden Villages, that hiring ninjas.
The war had ended after all.
One of Hinata’s guardians is, Sarutobi Mirai. They just arrived at Nijigakure. Hinata personally asked Mirai to accompany her wor walk. They go to market, restaurant and other places after firstly visiting the House of the Village Leader. In the middle of their way, Hinata is surprised as she saw a teenager girl, walk passing her. It is because the girl’s eyes. The girl Hinata saw has byakugan in her left eye. As far Hinata know, Hyuuga clan all is resided in Konoha. So, why? How come?
“Hey, wait!”
The girl stopped.
“You call me, Ma’am?”
Hinata then goes approaching the girl.
“I am Hinata from Konohagakure. You know, I’m just arrived here, and I would like to ask your help to accompany me, if you don’t mind.”
“Hinata-sama!” Mirai shout from behind.
Hinata quickly introduced Mirai as her only frieng so that she won’t be suspected. And mirai amazingly can understand the situation, since she realizes the girl has something.
“Very well, but maybe just for a few minutes. My mom will mad if I’m still not hom right there right now.”
Hinata is surprised again.
“Oh, then how about you take us to your house? I think I and Mirai need a place to rest too.”
The girl agreed.
But something is bothering her. Did she just let strangers following her home?
“I am sorry Hinata-san, Mirai-san. I know I may sound rude, but what is your true intention? Seems like you two actually want to follow me, there are many other villagers and yet you asked me who such is in a hurry?”
Hinata knows that. So, she finally spoke.
“Yeah, I am sorry. It’s just I want to know, about your eyes…”
Now is the girls’s turn to be surprised, but she was able to compose herself again.
Hinata continued “You see. You have the same eyes with me. It is impossible. I mean, if you are a member of Hyuuga clan….”
“Hinata-san, there’s a history of it. Only my mother knows. I only know what I can tell. There’s indeed Hyuuga’s blood in me, but… only a half.”
“A half?”
“As you see, only my left eye has the byakugan, right?”
Hinata is in silence for a moment.
“Since you admitted it, it means one of your parents is a member of Hyuuga clan, right?”
The girl looks away but is still nodding. “That’s my mother.”
“I see. That’s make a sense. If it’s your father, you should still acquire byakugan in both of your eyes. Even if it’s from your mother, you should actually acquire the complete byakugan eyes. But, you only have one; it must mean that your father had stronger kekkei genkai that dominate the kekkei genkai of byakugan.”
“Hinata-san, do you perhaps… perhaps know about what clan my father possibly belongs to?”
“Huh?”
“It’s just, my mother won’t tell me. She just always says that he is a great great person. I don’t even know how my father looks like. I don’t even know his name.”
Suddenly Hinata is taking a pity on that teen girl. There must be something. And Hinata herself cannot lie that she is curious too. In this world, there’s not much clan having kekkei genkai. And Hyuuga is one of the strongest. Another would belong to Yamanaka, Aburame, Akimichi and Uchiha. Those are that currenlty residing in Konoha. But still, for the fact that there is a Hyuuga live outside the village is…. weird.
“You say your mother is a Hyuuga, right? Would you let me meet your mother?”
“Uhm.. okay..”
“By the way, I still haven’t chance to know your name?”
“Uh oh.. I am sorry, I am Kirara.”

Kisame dan Itachi tengah ditugaskan oleh pain untuk menangkap bijuu ekor empat, Yonbi. Itachi dan Kisame pun berkelana mencari keberadaan sang Jinchuriki, Roushi, yang berasal dari Iwagakure. Untuk suatu alasan, Itachi membiarkan Kisame bertindak sendiri, karena ia yakin seorang Kisame sudah lebih dari cukup untuk melumpuhkan Roushi. Begitu mengetahui keberadaan sang Jinchuriki, Itachi pun berpisah untuk sementara dari Kisame.
Itachi memang menyembunyikan sesuatu. Bukan tentang misi penyusupannya di Akatsuki dengan menjadi salah seorang Akatsuki, namun tanpa memeriksanya pun Itachi tahu kalau ada yang salah dengan dirinya. Akhir-akhir ini ia kerap batuk darah. Memang tidak sampai sedikitpun mengganggu kelihaianya saat bertarung, tapi ia bisa merasakan jika penyakit ini cepat atau lambat akan melumpuhkan dirinya dari dalam. Meski sama sekali tak terlihat dari luar, tapi Itachi menduga rekannya, Hoshigaki Kisame itu mengetahu sesuatu dari dirinya namun tidak memperdulikannya. Itulah salah satu alasan Itachi memilih Kisame sebagai partnernya. Karena Kisame sama sekali tidak peduli. Di sela-sela misi, seperti sekarang ini misalnya, Itachi akan mengkonsumsi obat-obatan untuk menekan keganasan penyakit yang menggerogoti imun tubuhnya.
“Anda baik-baik saja?”
Itachi membuka matanya. Ia baru saja mengistirahatkan diri paska meminum obat. Entah dia ada dimana sekarang, karena tadi Itachi asal jalan saja mencari ketenangan. Yang pasti daerah ini cukup jauh dari Iwagakure dan bukanlah daerah yang familiar baginya.
“Sopan sekali kau mengganggu waktu tidurku!” sinis Itachi tapi kalem. Di depannya berdiri seorang wanita berambut hitam panjang, dengan tinggi semampai dan berparas…. Cantik..
Itachi memfokuskan apa yang dilihatnya. Bukan.. bukan karena wanita itu cantik.. tapi mata yang dimiliki wanita itu… sepasang byakugan!
“Tidur? Kukira anda tadi pingsan, karena anda kelihatan tidak sehat. Maaf kalau begitu, baiklah, aku pergi dulu.”
“Kau? Apa kau orang Konoha?”
Gadis itu menoleh menatap Itachi keheranan.
“Konoha?” Gadis itu berbalik dan berdiri lagi di depan Itachi.
“Apa kau dari Konoha?” Tanya gadis itu balik pada Itachi.
Entah gadis itu pura-pura tidak mengerti atau bagaimana yang pasti Itachi bukanlah tipe orang yang suka mengulur-ulur waktu. Tanpa dikomando pun, 3 koma sudah terbentuk di mata mode Sharingan-nya.
Gadis itu lantas terkejut.
“U-Uchiha?!!”
“Kau tahu soal Uchiha berarti sudah jelas kau berasal dari Konoha—–” belum tuntas Itachi berkata, gadis itu kembali menimpali.
“Jadi benar anda dari Konoha? Bagaimana di sana? Sudah lama sekali aku (ada sedikit keraguan) tidak kesana.”
Kali ini Itachi mulai bingung.
“kau seorang Hyuuga kan?” Tanya Itachi.
“Anda melihat mataku rupanya. Mata byakugan memang tidak bisa disembunyikan seperti Sharingan.” Dan kemudian gadis itu tergelak kecil.
“Kenapa kau ada disini? Dan mengapa aku tak pernah melihatmu sebelumnya?”
“Apa kau begitu jenius sampai menghafali semua penduduk desa? Hahaha.. aku memang tidak tinggal di Konoha. Bisa di bilang aku memutuskan untuk pergi.”
Alis Itachi bertaut.
“Apa terjadi sesuatu? Kau keberatan menceritakan yang sebenarnya terjadi?”
“Kenapa anda penasaran? Dan tentu saja aku keberatan, menceritakan hal yang selama ini kupendam. Apalagi bercerita kepada orang asing seperti anda.”
“Itachi, Uchiha Itachi. Dan aku seorang buronan dari Konoha.”
“Buronan? Kau seorang kriminal? Sekarang bagaimana aku yakin kalau kau tidak akan membahayakanku. Kau harus tahu kalau aku bukan seorang shinobi, Itachi-san.”
“Apa maksudmu? Kau memiliki byakugan..”
“Ya, aku bisa menggunakan byakugan. Tapi aku tak pernah berlatih menggunakan jutsu-jutsu. Karena di Nijigakure, tidak ada akademi ninja seperti di Konoha.”
Itachi akhirnya tahu kalau ia tengah berada di sekitar Nijigakure.
“Aku tentu saja pernah ingin menjadi kunoichi yang hebat, menjadi pahlawan yang rela mati demi desa.” Gadis itu akhirnya bercerita.
“Aku masih baru berusia lima tahun saat itu, saat sedang bermain bersama teman-temanku di sekitar hutan. Lalu muncullah shinobi-shinobi, yang entah siapa dan darimana, yang aku tahu hanyalah mereka berhasil menculikku. Aku mencuri dengar pembicaraan mereka, sebenarnya mereka memiliki rencana menyusup ke rumah utama untuk menculik siapapun yang berasal dari keluarga utama, untuk dicuri mata byakugannya. Saat itu, salah satu mereka melihatku, dan begitu mengetahui jika aku seorang Hyuuga, mereka mengubah rencana. Sehingga akulah yang diculik.”
“Lalu siapa yang menyelamatkanmu?”
“Menyelamatkanku? Bahkan ketika secara ajaib aku mampu melarikan diri dan berusaha menemukan jalan pulang, yang kulihat hanyalah sebuah desa yang hancur. Aku melihat sendiri dari kejauhan bagaimana siluman rubah berekor sembilan itu membunuh ayah, ibu dan kedua kakakku. Saat itu juga langkahku terhenti, aku begitu takut. Dengan masih gemetar aku berlari sejauh mungkin. Dan disinilah aku berada. Melupakan semua nya.”
“Dan memutuskan untuk tidak menjadi shinobi? Bukankah itu terlalu pengecut?”
“Aku memang pengecut. Tapi aku sudah cukup kehilangan. Jika aku menjadi shinobi, aku mungkin kuat, tapi akan ada orang yang meminta bantuanku, mengandalkanku, yang berarti pula aku akan memiliki musuh. Pada akhirnya segala yang kumiliki dan kusayangi lah yang menjadi jaminan. Aku tidak mau seperti itu. Bahkan jika aku diserang dan dibunuh, setidaknya orang yang melakukan itu tidak mengambil apa yang telah kurajut kembali.”
Itachi seakan merasa di sindir. Tapi pengorbannya benar-benar muncul dari sebuah itikad tulus. Itikad untuk melindungi desanya. Namun alasan gadis yang belum ia ketahu namanya itu tidak bisa disalahkan juga. Setiap orang berhak memilih.
COUGH
Gadis itu menoleh kearah Itachi yang membungkam mulutnya. Seperti yang ia duga dikenalnya, orang asing berjubah motif awan merah itu sedang tidak baik-baik saja. Tidak seharusnya ia peduli pada orang asing apalagi seorang shinobi buronan dari desa kuat seperti Konoha. Bukan tidak mungkin kan lelaki yang mengaku bernama Uchiha Itachi itu mencelakakannya. Namun saat melihat percikan darah merembes dari sela sela jari Itachi, gadis itupun mengambil sesuatu dari dalam ranjang yang sedari tadi digendongnya.
“Minumlah, ini akan membantu meredakan batuk darahmu.”
Tidak punya pilihan, Itachi pun menerima botol berisi cairan yang entah terbuat dari apa, rasanya aneh, namun begitu menegaknya, batuknya mulai berhenti.
“Kau seorang tabib?”
“Begitulah, aku bukan ninja dokter. Tapi aku selalu percaya dengan ramuan buatanku. Aku mempelajarinya dari seorang dokter di Nijigakure yang telah mengasuhku sedari kecil.”
Itachi paham sekarang. Gadis Hyuuga ini memulai dari awal kehidupannya. Dan tidak ingin hal serupa di masa lalu, dimana sebenarnya dirinya terlibat, terulang lagi pada orang-orang yang disayanginya.
“Itachi-san, boleh aku memeriksamu?”
Itachi memandang gadis itu, yang tampak menghela napas jengah.
“Aku hanya ingin memastikan, apa persisnya penyakit yang kau derita?”
“Lalu, apa kau juga tahu cara untuk menyembuhkannya?”
“Apa maksudmu? Seorang ninja buronan pastilah bukan ninja main-main. Tapi kenapa kau terdengar pesimis seperti itu?”
Tanpa menunggu Itachi untuk protes kedua kalinya, gadis itu menyibak jubbah yang dikenakan Itachi. Menaruh keranjangnya disamping, gadis itu memeriksa denyut nadi di leher Itachi, dan juga detak jantungnya, sebelum kemudian mengaktifkan byakugan miliknya.
Itachi mengetahui hal baru lagi. Dan daripada memberontak, iapun memilih diam dan menurut saja. Entah kenapa ia yakin gadis Hyuuga ini takkan berbuat macam-macam(??).
Membaca raut muka gadis didepannya, Itachi sudah bisa menebak separah apa penyakitnya.
“Selama aku meminum obat-obat ini, sisa umurku masih bisa kuperpanjang.” Urai Itachi sambil menunjukkan beberapa botol pil yang ia sembunyikan dibalik jubahnya.
“Itachi-san, kau pasti ninja yang sangat hebat. Terbukti dari betapa lihai kau memanfaatkan seluruh bagian tubuhmu untuk menggunakan jutsu.”
Itachi spontan sedikit terkekeh.
“Itachi-san, aku tahu sesuatu yang lebih baik daripada pil-pil itu.”
“Huh?”
“Ikutlah denganku!”
Itachi pun mengikuti gadis yang membawanya ke sebuah air terjun. Air terjun itu unik, karena di hulunya terlihat banyak lengkungan pelangi. Mungkin dari situlah nama desa ini berasal.
“Kau mencari apa, Hyuuga?”
“Siput emas.” Jawab gadis itu sekenanya.
Itachi berfikir, apa yang akan gadis itu lakukan dengan siput emas. Itachi bahkan tidak yakin hewan seperti itu ada.
“Kenapa tidak ada….” Keluh gadis itu. Sementara Itachi hanya duduk santai diatas bebatuan sungai, tak mengindahkan aktivitas si gadis Hyuuga. Gadis itupun mengaktifkan byakugan. Apa yang ia cari memang sangat langka karena manfaat besarnya. Dan dapat! Tepat dibawah derasnya air terjun.
“Itachi-san, kau lihat ini!” Gadis itu menghampiri Itachi dan menunjukkan seekor siput bewarna keemasan di telapak tangannya.
“Baru pertama kali aku melihat yang seperti ini.”
“Ini memang tidak bisa menyembuhkanmu secara total. Tapi ini jauh lebih efektif untuk memperpanjang waktu hidupmu dibandingkan dengan multivitamin yang sering kau konsumsi itu. Asalkan, kau tidak berlebihan dalam menggunakan jutsumu. Apalagi kau seorang pengguna Sharingan.”
“Sepertinya kau tahu banyak tentang shinobi. Apa kau juga tahu banyak soal Sharingan?”
“Dulu aku sempat memiliki teman dari keluarga Uchiha. Aku sudah hampir lupa wajahnya, tapi aku sering memanggilnya kak Sishui. Kak Sishui orang yang hebat dan juga baik. Dia sesekali membelikanku dan teman-teman dango dan mengajari kami menggunakan shuriken secara aman. Dia pernah cerita jika ia cukup bangga terlahir dari klan kuat seperti Uchiha karena itu ia ingin menjadi shinobi hebat untuk melindungi klan dan juga desanya.”
Dada Itachi sedikit tercekat. Bagaimana gadis ini mengenal Sishui?
“Apa kau tidak penasaran sama sekali apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa penyerang siluman rubah berekor sembilan itu?”
“Itu sudah lama sekali, dan aku benar-benar tidak peduli. Keluargaku sudah tiada. Aku hanya ingin hidup dengan damai. Tidak ingin terbawa perasaan marah, benci, dendam, ataupun penyesalan. Sekarang, makanlah siput ini.”
Tanpa ragu Itachi pun melahap binatang keemasan itu.
“Kau benar-benar menelannya?”
“Kau yang menyuruhku?”
“Sama sekali tidak jijik?”
“Ninja yang hebat tidak pernah merasa jijik.”
Gadis itu tersenyum simpul.
“Apa kau pergi sendirian, Itachi-san?”
“Tidak. Begitu keluar dari Konoha, aku bergabung dengan sebuah organisasi bernama Akatsuki. Jubah serta cincin yang kupakai ini adalah tanda jika aku seorang anggota Akatsuki. Kau lihat, aku telah sangat mengkhianati desaku dengan bergabung dalam Akatsuki.”
“Memang apa yang menjadi target Akatsuki? Apa kalian melakukan penyerangan terhadap negara-negara kecil lalu ingin membentuk system pemerintahan yang baru?”
“Kenapa kau ingin tahu?”
“Dan kau tidak harus menjawabnya Tuan Uchiha.”
Gadis itupun mulai beranjak pergi, sebelum Itachi menyahut.
“Kau tahu, akulah dalang di balik kematian orang tuamu. Dan juga Sishui.”
Gadis itu hanya menatap Itachi.
“Sudah kubilang aku tidak peduli lagi.”
“Bukankah karena peristiwa itu kau berada disini, terpisah dari klanmu?”
“Apa arti sebuah klan Itachi-san? Meninggalkan klan bukan berarti aku sudah melupakan dan tidak bangga sama sekali menjadi bagian di dalamnya. Dan klan itu sendiri tidak akan hancur hanya karena kehilangan satu anggotanya. Aku disini karena aku merasa lebih baik dan klan ku pun baik-baik saja disana.”
Itachi takjub dengan efek pada tubuhnya usai memakan siput emas itu. Tubuhnya terasa lebih ringan dan bertenaga.
“Kalau begitu…” gadis itu hendak undur diri, meski sejujurnya ia masih ingin bersama Itachi entah mengapa, namun ia tahu Itachi bukanlah orang yang menyukai kebersamaan.
SRET
“Eh? Apa yang terjadi Itachi-san?” gadis itu bingung dan panik karena tiba-tiba seperti berpindah dimensi.
“Ini adalah salah satu ninjutsuku, Hyuuga. Tsukuyomi. Kau berada dalam ilusiku.”
“Itachi-san! Kau tidak benar-benar akan mencelakai ku kan?”
Itachi-pun menghentikan Tsukuyominya mengembalikan kesadaran gadis itu.
“Maaf, aku hanya menguji. Seperti nya hewan aneh tadi mulai menunjukan efeknya.”
“Sebagai musuh, kau benar-benar orang yang berbahaya Itachi-san.”
“Apa bagimu aku seorang musuh?” Tanya Itachi balik. Ia melepas jubahnya dan meletakkan cincin shu diatas jubahnya. Menghampiri gadis Hyuuga itu.
“Terimakasih.. uhm…”
“Hikari, Hyuuga Hikari.”

Hinata akhirnya sampai di kediaman Kirara.
“Kirara, kau sudah pul—” Hikari cukup terkejut melihat putrinya membawa dua orang tamu, yang dalam beberapa saat ia tahu darimana dua orang itu berasal.
“Kalian, dari Konoha?”
“Benar. Perkenalkan, aku Hyuuga Hinata, dan ini temanku, Sarutobi Mirai.”
“Perkenalkan juga, aku ibu dari Kirara, Hyuuga Hikari.”
Benar-benar seorang Hyuuga.
“Silahkan masuk.”
“Terimakasih.”
“Aku tahu, Hinata-san dan Mirai-san, datang kemari bukan hanya untuk berkunjung. Aku tidak keberatan jika harus menceritakan cerita panjangku sampai kesini dan memisahkan diri dari klan.”
“Yang saya ingin tahu, Hikari-san. Mengapa anda tidak pernah sekalipun kembali ke Konoha?”

“Hahaue, apa kakak belum kembali?” Tanya Kirara yang tiba-tiba menginterupsi.
“Hari ini kakakmu akan pulang telat Kirara.”

Hinata cukup antusias mendapat informasi baru ini.
“Kakak? Jadi Kirara memiliki saudara?”
“Ya. Kirara dan kakaknya adalah saudara kembar.”
“Hikari-san, apa kakak Kirara juga memiliki mata yang sama dengan Kirara?”
“Hm. Tapi aku harap, kedatangan kalian kemari bukan untuk menanyakan bagaimana anak-anakku mewarisi kekkei genkai seperti itu.”

Sementara itu, Kirara yang sengaja tengah menguping, sedang berharap-harap cemas.
‘Kumohon Hinata-san, buat Hahaue menceritakan yang sebenarnya..’

“Tentu hanya anda lah yang berhak atas semua itu, Hikari-san. Tetapi saya harap anda mau datang ke Konoha Hikari-san. Ayah pasti akan sangat senang jika tahu masih ada dari klan kita di luar Konoha. Kau tidak perlu tinggal bersama kami. Hanya, anggaplah seperti silaturahmi keluarga. Selain itu, aku berharap kau akan mempertimbangkan saranku ini, agar anda mau memasukkan Kirara dan kakaknya ke Akademi.”
“Akademi? Belajar menjadi shinobi? Aku hanya tidak ingin mereka terlibat masalah hanya karena menjadi shinobi.”
“Seperti yang anda tahu, dunia sekarang sudah jauh lebih aman. Begitu juga dengan Konoha. Belajar ilmu ninja bukan hanya agar menjadi kuat, tetapi juga untuk mencari jati diri. Saya yakin anak-anak anda akan memerlukannya.”

“Aku pulaaaang.”

Ditengah pembicaraan serius Hinata dan Hikari, muncullah seorang anak lelaki berambut hitam panjang dan lurus, yang diikat dan yang hampir mengejutkan Hinata karena sedikit mengingatkannya akan Neji.
“Okaeri, Hiruma.”

Setelah menerima ajakan Hinata untuk mengunjungi Konoha, Hikari akhirnya menemui pemimpin klannya, yang tak lain adalah ayah Hinata, Hyuuga Hiashi. Ia juga tahu apa saja yang telah terjadi di Konoha selama ini, termasuk apa yang terjadi di perang shinobi ke empat. Dan ketika putra-putri kembarnya, terutama Kirara begitu antusias ingin belajar menjadi ninja, Hikari pun akhirnya mengizinkan mereka untuk terdaftar di Akademi Konoha. Ia juga telah menemui suami Hinata, yang merupakan orang nomor satu di Negara ini, Sang Hokage ke-tujuh, Uzumaki Naruto.
Hikari memutuskan tinggal di Konoha untuk sementara, sampai anak-anaknya sudah bisa beradaptasi penuh dengan teman-teman barunya dan siap ia tinggalkan. Ketika para ibu termasuk Hinata, Ino dan Sakura mengajaknya jalan-jalan di Konoha, Hikari tertegun sejenak ketika tahu bahwa Sakura, ternyata bersuamikan seorang Uchiha, yang ia tahu bernama Uchiha Sasuke.
Sasuke yang hari ini menjemput Sarada dari Akademi, cukup terkejut saat melihat sendiri sepasang anak kembar yang diceritakan Naruto beberapa saat lalu. Si kembar itu benar-benar unik. Terutama kekkei genkai apa yang mereka warisi. Meski usia si kembar itu jauh lebih tua dibandingkan anaknya, tapi menjadi ninja konoha berarti harus memulai dari nol, alias dari tingkatan genin. Tak peduli berapapun usianya karena memang seperti itulah aturannya.
Sampai sekarang belum ada yang bisa menganalisa tentang keunikan mata Kirara dan Hiruma. Dan sebagai orang yang lebih tahu, Hiashi memiliki dugaan kuat, namun ia memilih diam. Jika mengenai kekuatan mata, hanya ada satu yang menjadi rival klan Hyuuga. Tapi masalahnya, siapa?
Saat mendaftar di akademi pun, Hikari tetap kukuh menolak memberitahukan identitas ayah biologis dari kedua anak kembarnya.

“Ibu, sekalipun ayah seorang penjahat yang diburu, aku tidak peduli, aku hanya…”
“Kirara, cepat atau lambat kalian pasti akan tahu, ibu yakin itu, karena ibu hanya ingin, waktu sendiri yang memberikan jawabannya pada kalian.”
“Ibu, aku ikut ibu pulang saja ke nijigakure.” Timpal Hiruma.
“Lalu kau akan meninggalkan Kirara sendirian disini? Kau harus menjaga adikmu, Hiruma.”
“Lalu kenapa tiba-tiba ibu mengikutkan kami ke Akademi? Kirara tidak masalah, tapi aku?”
“Jangan pura-pura Hiruma, ibu tahu bagaimana setiap hari kamu berlatih saat mencari tanaman obat di hutan. Seperti yang bibi Hinata bilang, belajar di Akademi, bukan lah sekedar melatih diri menjadi kuat, tapi juga untuk menggali lebih jauh apa yang selama ini tidak kita ketahui.”
Kirara mendongak,
“Termasuk.. tentang ayah?”

“Itachi-san, apapun yang kukatakan padamu, keputusanmu tetap takkan berubah kan?” Tanya Hikari nanar. Sungguh ia ingin merengkuh orang yang kian jauh dari jangkauanya itu. Mendekapnya erat dan tak pernah melepasnya pergi.
“Hn.” Namun itulah jawaban mutlak yang dilontarkan Itachi. Ia telah melakukan dosa. Dosa tak termaafkan. Pada adiknya Sasuke, pada keluarganya, dan pada klannya. Meski semua untuk menunjukkan kesetiaan dan pengabdiannya pada desa tercintanya, desa tempat lahirnya, Konohagakure no sato. Itachi bertekad menebus dosanya dengan dirinya.
Tapi, meski begitupun, meski ia harus menelan pahit, Hikari takkan menyesali sedetikpun waktu yang telah ia lewati. Ia bahagia. Meski untuk saat itu saja. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi melihat determinasi kuat Itachi ia tak yakin jika mengatakan hal itu adalah keputusan yang tepat. Hikari, ia hanya ingin Itachi bahagia. Bahkan jika ia harus menemui kematiannya, ia tetap berharap Itachi menemukan kebahagiannya. Melepaskan segala kepedihan dunia yang selama ini terus mendera bathinnya tanpa seorangpun tahu.
“Hikari, hontou ni, arigatou.”
Sekali lagi Itachi menatap sepasang mata putih itu. Ia benar-benar tulus mengucapkan kata terimakasih itu. Karena ini untuk yang terakhir.
“Hai. Sayonara, Itachi-san.”
Hikari menatap daun pintu yang tertutup. Memisahkan penglihatanya dari siluet punggung Itachi yang takkan pernah lagi dijumpainya. Lelehan hangat mengalir dari kedua sudut matanya. Ia tahu, di dunia ini tak pernah ada yang namanya keadilan sejati. Tetapi kalau ia boleh memohon kepada Tuhan, ia ingin Itachi menemukan kebahagiannya. Demi Tuhan, lelaki itu terlalu banyak memikul beban penderitaan. Sudah terlalu banyak. Bahkan derita yang selama ini ia tanggungpun mungkin tidak ada apa-apanya. Karena itu ia rela melakukan apapun asal itu bisa mengurangi beban yang ditanggung Itachi. Berbagi rasa sakit. Memberikannya sedikit tempat berlindung. Hikari menaikkan kembali helai selimut untuk menutupi tubuhnya. Memejamkan mata. Meski nyatanya ia tak juga bermimpi, melainkan menangis semalaman.

Hikari menatap wajah menuntut putranya. Terdapat garis halus disisi kanan dan kiri hidungnya. Sangat mengingatkannya akan seseorang. Seseorang yang senantiasa ia doakan sepanjang harinya.
“Hiruma, kau dan Kirara adalah segalanya bagi ibu. Ibu benar-benar mencintai kalian lebih dari ibu mencintai diri ibu sendiri.”
Ya. Tanpa diberitahupun Hiruma tahu itu. Ia sudah bukan anak kecil lagi. Ia juga menyayangi ibunya dan juga Kirara. Sangat sangat menyayangi keduanya. Lebih dari apapun.
“Apa… Apa ayah menyakiti ibumu?”
Hikari menggeleng. “Justru, dia telah memberikan dunia pada ibu.”
“Dunia?”
“Ya. Kau dan Kirara. Jika ada yang harus disalahkan itu ibu. Karena ibu memang tak memberitahunya soal keberadaan kalian. Ibu melepasnya pergi. Tapi hanya itulah yang bisa ibu lakukan untuknya.”
“Ibu.. maaf.. aku…” Hiruma hanya bisa merengkuh sang ibu dalam pelukan.
“Tentu ibu ingin agar dia tetap disini, bersama kita, melihat bagaimana kalian tumbuh… tapi ibu tidak berhak. Ia, ayahmu, dia terlalu banyak memikul beban yang sedikitpun tak bisa ibu bantu ringankan…”
“Ibu.. setidaknya, jawablah satu pertanyaanku ini. Apa dia seorang Uchiha, seperti Sasuke-sensei?”
“Ya.”
“Aku tahu sekarang. Aku mengerti. Aku minta maaf jika aku terus mengganggu ibu dengan rasa penasaranku. Ibu lihat saja, aku akan berlatih giat setiap hari dan menjadi kuat. Aku akan melindungi semua yang kusayangi. Aku akan melindungi ibu dan Kirara.”

###

“Sasuke, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan.” Ucap Naruto yang tengah berdiri diatas Hokage Mountain bersama rival abadinya, Uchiha Sasuke.
“Aku tahu kau sedang menyembunyikan perasaan bahagiamu mengetahui hal ini.”
“Berhenti bersikap sok tahu,Usuratonkachi.”
“Oy oy, kau mulai tak sopan.”
“Tsk.”
“Tapi, ini benar-benar diluar dugaan bukan. Aku ragu Itachi sendiri mengetahui hal ini.”
“Orokana aniki.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan? Menjadi pengasuh mereka?”
“Jika aku melakukannya mereka tidak akan menjadi ninja sejati. Kau harusnya tahu lebih baik akan hal itu kan, Nanadaime-sama?”
“Ah. Tapi jujur saja Sasuke. Aku mungkin lebih bahagia dari dirimu. Karena sekarang kesempatan untuk mengembalikan kembali klan Uchiha menjadi semakin besar. Tidak harus bergantung padamu dan Sarada.”
“Apa maksudmu?”
“Ahahahahaha… by the way(?) kapan kau akan memberikan Sarada seorang adik?”
“Damatterou!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s